Jelang Menuju Grahadi

Khofifah Tambah Bosda Madin Jadi 3.000 Lembaga 2019, selain Tunjangan 10 Ribu Penghafal Alquran

Usai rapat di Hotel Zest Jemursari, Senin (6/8/2018), Khofifah mengatakan saat ini tim navigasi program masih terus melakukan pencocokkan program.

Khofifah Tambah Bosda Madin Jadi 3.000 Lembaga 2019, selain Tunjangan 10 Ribu Penghafal Alquran
surya/fatimatuz zahro
Gubernur Jawa Timur terpilih, Khofifah Indar Parawansa saat menyapa Muslimat di Kediri. 

SURYA.CO.ID |  SURABAYA - Proses penyusunan dan sinkronisasi program nawa bhakti satya dengan pemerintah provinsi Jawa Timur terus dilakukan oleh Gubernur dan Wakil Gubernur Jawa Timur terpilih, Khofifah Indar Parawansa - Emil Elestianto Dardak.

Usai rapat di Hotel Zest Jemursari, Senin (6/8/2018), Khofifah mengatakan saat ini tim navigasi program masih terus melakukan pencocokkan program nawa bhakti satya yang akan masuk dalam RAPBD 2019.

"Ini tadi saya sedang cek detail lagi resume rapatnya. Kami mengusulkan menambahan sekolah madrasah yang menerima bantuan operasional sekolah daerah (Bosda) madrasah diniyah (madin). Yang tahun ini 2.000 madin, tahun depan kita akan masukkan 3.000 madin," kata Khofifah.

Saat ini data terrsebut sedang didetailnya mana sekolah yang akan menerima dan juga berapa jumlah siswa yang akan mendapatkan Bosda Madin. Sebab prinsipnya penyaluran Bosda Madin ini berdasarkan hitungan siswa jumah siswa.

Peningkatan Bosda Madin menurut Khofifah penting. Lantaran program ini juga banyak diharap oleh madin di berbagai pesantren di pelosok desa di Jawa Timur yang menyelenggarakan madrasah diniyah.

Tidak hanya itu, dalam pembahasan RAPBD 2019 ini Khofifah juga masih membutuhkan sejumlah penjelasan dari tim pemprov. Seperti pemberlakukan sekolah SMK/SMA  70 banding 30 persen.

"Ya kita terus koordinasi dengen tim transisi yang dibentuk Pakde. Meski tidak saya langsung, namun kemarin Prof Masud juga sudh bertemu dengan Sekdaprov, lalu juga tim yang lain. Semua sambil jalan," imbuhnya.

Selain itu, Khofifah juga menegaskan masih menggodok terkait kebutuhan laboratorium di SMK. Dimana dari 45 persen sekolah SMK yang memiliki laboratorium. Yang menurutnya menjadi akar masalah banyaknya penggelembungan pengangguran yang ternyata dari lulusan SMK.

Tidak adanya laboratorium ini membuat kualitas lulusan rendah sehingga tidak mudah diserap oleh dunia kerja. Kalaupun laboratorium induk yang menjadinsolusi, kinibia masih menggodok juga sekolah mana yang akan menjadi laboratorium induk.

"Nah masalah ini tentu akan dibicarakan. Saya sampai saatbini masih belum bertemu dengan Kepala Dinas Pendidikan Jawa Timur yaitu Pak Syaiful Rahman," imbuhnya.

Selain untuk Bosda madrasah diniyah yang sudah dimasukkan Khofifah juga menyebut sudah memasukkan dan mengkomunikasikan terkait pemberian tunjangan kehormatan bagi 10 ribu penghafal Alquran, serta beasiswa S2 untuk guru madrasan diniyah.

Sedangkan di bidang kesehatan, Khofifah mengaku sudah mengalokasikan khusus untuk masuknya program PKH plus untuk lansia di atas usia 70 tahun.

Penulis: Fatimatuz Zahro
Editor: Parmin
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help