Berita Pasuruan

Kekeringan, Warga Pasrepan Kabupaten Pasuruan Harus Antre Bantuan Air Bersih

Kesulitan air saat kemarau ini sudah dialami warga Desa SIbon, Pasrepan, sejak bertahun-tahun

Kekeringan, Warga Pasrepan Kabupaten Pasuruan Harus Antre Bantuan Air Bersih
surya/galih lintartika
Ibu-ibu Desa Sibon, Kecamatan Pasrepan, Kabupaten Pasuruan, antre menunggu giliran mengambil bantuan air bersih akibat kekeringan yang melanda. 

SURYA.co.id | PASURUAN - Warga Desa Sibon, Kecamatan Pasrepan, Kabupaten Pasuruan, saling berebut saat melihat truk pengangkut air bersih yang dikirimkan Pemkab Pasuruan, Jumat (3/8/2018) sore. Mereka berebut menyodorkan jeriken-jeriken yang mereka bawa dari rumahnya.

Maklum saja, warga disini, memang kesulitan air bersih di saat musim kemarau. Wajar, jika mereka berebut air bersih setiap melihat truk yang memasok air bersih di sini. Mereka rela antre dan berdiri berjam-jam untuk mendapatkan jatah air.

Setiap musim kemarau, sumber air di tempat mereka ini pasti tidak keluar. Jadi, mereka hanya mengandalkan bantuan pasokan air dari pemerintah atau dari pihak-pihak lain yang peduli dengan warga di sini.

Faisol Mudrik, salah satu masyarakat menjelaskan, ada beberaa pihak yang mengirimkan pasokan air bersih.

Ada dari pihak Pemkab Pasuruan, dan ada dari pihak swasta, atau dari pondok pesantren (ponpes) yang peduli dengan masyarakat di sini.

"Tapi tetap saja, meski sudah dipasok tetap kurang. Air ini kan kebutuhan pokok, semuanya harus ada air, mulai masak, mencuci, mandi, dan sebagainya," katanya saat ditemui Surya, Senin (6/8/2018).

Ia menjelaskan, pasokan itu tidak cukup meski sehari bisa sampai dua atau bahkan sampai empat truk tangki air.

"Permintaannya karena sangat tinggi. Setiap hari orang pakai air. Jadi setiap hari harus ada air Nah, kadang tidak ada pasokan air yang datang ke sini. Jadi, kami d isini harus menghemat dan mengatur penggunaan air," terangnya.

Fasiol menerangkan, dalam sehari, minimal warga di sini menggunakan 4-6 jeriken. Padahal, setiap kali bantuan datang, warga hanya bisa mendapatkan 3-4 jeriken.

"Itu kami tidak bisa dapat lebih. Karena dibagi rata. Tidak boleh serakah. Jadi harus sama-sama. Nah, nanti kalau semuanya sudah rata, baru yang mau nunggu dan ada sisa , bisa dapat air lagi. Tapi, ada air sisa itu sangat jarang sekali," urainya.

Halaman
12
Penulis: Galih Lintartika
Editor: irwan sy
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved