Berita Gresik

Warga Gresik Senang Banyak Ikan Mati Mengambang di Sungai Brantas, Padahal Menurut Ecoton

Sejak pagi tadi ikan di Sungai Brantas banyak yang mati mengambang. Warga sekitar kali mengaku senang mendapat ikan yang bisa digunakan untuk makan

Warga Gresik Senang Banyak Ikan Mati Mengambang di Sungai Brantas, Padahal Menurut Ecoton
SURYAOnline/Sugiyono
IKAN - Warga mencari ikan yamg mati di Sungai Brantas, Desa Bambe Kecamatan Driyorejo, Kamis (2/8/2018). 

SURYA.co.id | GRESIK - Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Ecoton menyayangkan banyaknya ikan mati mengambang di Sungai Brantas, wilayah Desa Bambe Kecamatan Driyorejo.

Prigi Arisandi, Direktur Eksekutif Ecological Observation and Wetlands Conservation (Ecoton) mengatakan, sejak pagi tadi ikan di Sungai Brantas banyak yang mati. Diantaranya, bader abang, bader putih, nila dan rengkik.

Prigi mengharapkan peran pemerintah untuk mencari penyebab kematian ikan tersebut. Sebab, secara tidak langsung ekosistem di sungai Brantas terganggu oleh lingkungan yang kurang sehat.

"Diduga dampak perubahan cuaca ke musim kemarau mengakibatkan ikan-ikan mati. Sehingga dikawatirkan ada limbah yang mengalir dan sengaja dibuang ke sungai," kata Prigi, Kamis (2/8/2018).

Selama ini, lanjutnya, Ecoton telah memperingatkan kepada pemerintah untuk mengantisipasi musim kemarau. Sebab, terjadi penurunan debit air dan tambahan volume limbah dari beberapa beroperasinya pabrik di musim kemarau.

"Suhu lingkungan yang panas akan mempercepat reaksi kimia dan memicu turunnya oksigen dalam air. Maka, pemerintah harus melakukan pengawasan ekstra terhadap pengguna air sungai, terutama industri untuk menerapkan prinsip berhati-hati dalam pengolahan limbah cair sebelum dibuang ke sungai," imbuhnya.

Prigi menambahkan, matinya ikan-ikan di Sungai Brantas, Ecoton sangat menyesal atas terjadinya peristiwa tersebut. Itu sebagai bukti bahwa pemerintah gagal menjalankan pengawasan terhadap lingkungan dan Sungai.

"Pemerintah gagal menjalankan kewajiban monitoring air Kali Brantas Sungai surabaya wilayah Gresik," katanya.

Untuk mencegah terjadinya ikan mati setiap tahun, Ecoton meminta adanya tim dan sistem tanggap darurat ikan mati massal.

"Gubernur Jatim harus memberi sanksi dengan penutupan pabrik yang terbukti membuang limbahnya ke Sungai Brantas," imbuh Prigi.

Dia juga menyesalkan dengan banyaknya bangunan liar yang ada di tepi sungai Brantas.

"Ada 7.000 bangunan yang direstui Dinas Pekerjaan Umum dan Gubernur Jatim sehingga tidak ada ruang untuk penghijauan sungai," katanya.

Sementara masyarakat yang berada di sekitar Sungai Brantas di Desa Bambe Kecamatan Driyorejo, banyak yang mendapat ikan.

Mereka menangkap ikan yang sudah mengambang dengan jaring. Warga mengaku senang mendapat ikan yang bisa digunakan untuk makan.

"Lumayan bisa untuk tambah ikan untuk makan," kata Agus Pambudi, warga Bambe yang ikut mencari ikan.

Penulis: Sugiyono
Editor: Cak Sur
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help