Berita Surabaya

Ini Tiga Emitem Sensitif Terhadap Pelemahan Rupiah, Menurut Analis Bahana Sekuritas

pelemahan nilai tukar yang telah terjadi selama beberapa bulan terakhir ini, diperkirakan masih akan terjadi akibat tekanan global.

Ini Tiga Emitem Sensitif Terhadap Pelemahan Rupiah, Menurut Analis Bahana Sekuritas
TRIBUNNEWS/HERUDIN
Teller sebuah bank menghitung uang Rupiah di atas Dolar Amerika Serikat. 

SURYA.co.id | SURABAYA - Pembalikan modal akibat perang dagang antara Amerika dan Tiongkok serta kenaikan suku bunga acuan Amerika masih mewarnai pasar keuangan sejumlah negara-negara berkembang. Hal tersebut berdampak pada pelemahan mata uang Indonesia, India, Filipina dan negara lainnya di kawasan Asia Tenggara.

Bank Indonesia sebagai pengelola moneter telah berupaya menjaga volatilitas nilai tukar dengan melakukan intervensi di pasar valas maupun surat utang negara (SUN) serta menaikkan suku bunga acuan BI 7-day repo rate sebesar 100 basis point (bps) sejak Mei 2018 ke level 5,25 persen.

Meski intervensi telah dilakukan, pada penutupan perdagangan Jumat (27/7/2018) nilai tukar Rupiah masih ditutup melemah sekitar 6,0 persen terhadap dolar, sedikit lebih baik dibanding Rupee yang terdepresiasi hingga 7,1 persen terhadap dolar. Demi menjaga stabilitas nilai tukar, BI siap mengambil langkah menaikkan BI 7-day repo rate ke depannya.

Menurut Analis Bahana Sekuritas, Michael Setjoadi, pelemahan nilai tukar yang telah terjadi selama beberapa bulan terakhir ini, diperkirakan masih akan terjadi akibat tekanan global.

"Hal ini juga akan berpengaruh terhadap kinerja keuangan perusahaan yang bahan bakunya masih mengandalkan impor dan memiliki utang dalam dolar," kata Michael, Selasa (31/7/2018).

Beberapa di antaranya PT Indofood Sukses Makmur yang bahan baku anak usahanya seperti Bogasari dan Indofood CBP Sukses Makmur masih mengandalkan impor gandum.

Ditambah lagi Indofood masih memiliki utang valas sebesar 587 juta dolar AS dan utang Indofood CBP sebesar 57 juta dolar AS.

Michael menuturkan setiap pelemahan 1 persen rupiah, menggerus laba bersih Indofood CBP sebesar 1,7 persen dan 3,6 persen untuk Indofood Sukses Makmur.

Pada awal tahun, Bahana memperkirakan laba bersih Indofood Sukses Makmur (INDF) akan naik sekitar 5,5 persen atau mencapai Rp 4,40 triliun dari pencapaian tahun lalu sebesar Rp 4,17 triliun, ditopang oleh performa Indofood CBP yang diperkirakan akan tumbuh 10,1 persen.

PT Mitra Adiperkasa juga akan mengalami tekanan karena sekitar 50 persen dari total barang yang dijual perseroan adalah impor dari Amerika, Eropa dan negara lainnya, sehingga sekitar 15-20 persen dari total biaya yang dikeluarkan untuk memperoleh barang/jasa atau yang lebih dikenal dengan cost of goods sold (COGS) dalam denominasi US dolar.

Halaman
12
Penulis: Sri Handi Lestari
Editor: irwan sy
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved