Single Focus

Bangunan Pertama Rusun Penjaringan Sari, Harganya masih Terjangkau karena Belum Renovasi

Polemik rumah susun di Urip Sumoharjo tidak berlaku di kawasan rusun lain. Seperti di Rusun Penjaringan Sari 1 (PS1).

Bangunan Pertama Rusun Penjaringan Sari, Harganya masih Terjangkau karena Belum Renovasi
surya/habibur rohman
Suasana Rusun Penjarangansari Surabaya, Rabu (27/4/2016). 

SURYA.co.id | SURABAYA - Polemik rumah susun di Urip Sumoharjo  tidak berlaku di kawasan rusun lain. Seperti di Rusun Penjaringan Sari 1 (PS1) yang harganya masih terjangkau.

Pramita (32), penghuni rusun sejak 2005 mengungkapkan rusun PS 1 terbagi menjadi 3 blok. Yaitu A,B dan C, ketiganya merupakan bangunan rusun pertama di kawasan penjaringan sari.

"Karena bangunan pertama dan belum pernah ada renovasi jadi biayanya masih terjangkau. Kamar saya ini hanya Rp 30.000 perbulan,"ungkap wanita yang juga istri ketua RT3 RW 10 Penjaringan Sari yang tinggal di lantai dua ini.

Ia tinggal di rusun blok C yang merupakan bangunan empat lantai. Semakin tinggi lantainya maka semakin murah sewanya. Menurutnya meskipun lantai satu yang termahal tetapi sewanya belum mencapai Rp 100.000.

"Karena sewanya masih terjangkau, jadi banyak penghuni yang minta bayar sewa setahun sekali. Tapi UPTD hanya membatasi maksimal 6 bulan,"lanjutnya.

Karena bangunan pertama, menurutnya tidak ada MCK di tiap kamar. MCK yang digunakan milik bersama. Sehingga warga rusun rutin bekerja bakti untuk membersihkan lingkungannya. Sebab tidak semua fasilitas ditangani UPTD untuk perbaikan.

"Kalau warga ya rutin kerja bakti untuk mem bersihkan tandon. Karena tandon bersama, bayarnya juga dihitung perkepala. Kalau saya bayar air dan iuran lain-lain nggak sampai Rp 30 ribu,"lanjutnya.

Mita, sapaan akrab wanita dua anak ini mengungkapkan kamar di PS 1 terbilang lebih besar dibandingkan kamar di PS 2 ataupun PS 3 yang terbilang lebih baru dan lebih mahal.

Sementara itu, ada pula warga yang menyewa tahunan kamar rusun dari penyewa aslinya. Seperti Manurung (47) yang menyewa dengan harga Rp 3,5 juta pertahun.

Kamar dengan ukuran 3x6 meter itu ditinggali Manurung bersama istru dan anaknya sejak tahun 2000.

"Saya pindahan dari Dukuh Kupang, yang sewa kamar saya dari Pemkot juga warga Dukuh Kupang," urainya.

Menurutnya, rusun yang ditinggalinya tidak pernah bermasalah. Meskipun dirinya juga kesulitan membayar biaya sewa yang lebih besar dibandingkan menyewa langsung pada pemkot.

"Saya biasanya hutang dulu, trus saya bayar bulanan buat bayar hutang itu," urainya.

Penulis: Sulvi Sofiana
Editor: Parmin
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved