Single Focus

Terima Tagihan Tunggakan Sewa Rusun Rp 10,6 Juta, Suliyah Mengaku Takut dan Tak Bisa Tidur

“Saya tinggal sendirian, anak saya sudah menikah semua, ada yang tinggal di Mojokerto,” tutur Suliyah, Minggu (29/7/2018).

Terima Tagihan Tunggakan Sewa Rusun Rp 10,6 Juta, Suliyah Mengaku Takut dan Tak Bisa Tidur
SURYAOnline/ahmad zaimul haq
Suasana penghuni rusun Urip Sumoharjo. 

SURYA.co.id | SURABAYA -  Suliyah (64), merapatkan kemejanya. Angin siang itu memang cukup kencang menerpa lantai 4 Rumah Susun (Rusun) Urip Sumoharjo Surabaya, Minggu (29/7/2018). Warga rusun lantai 2 itu tengah menyambangi Sri Hartati (66), sahabatnya yang tinggal seorang diri di lantai 4.

Ia ingin bercengkrama dengan sahabatnya, yang juga seorang janda. Keduanya sama-sama tidak bekerja.

“Saya tinggal sendirian, anak saya sudah menikah semua, ada yang tinggal di Mojokerto,” tutur Suliyah, Minggu (29/7/2018).

Sedang Sri tinggal bersama putranya yang berusia 39 tahun, belum menikah karena tak ingin meninggalkan ibunya sendirian.

Mereka mengandalkan pemasukan dari anak-anaknya yang biasa memberi uang sekali sebulan.

Untuk tambahan, mereka terkadang mengumpulkan botol bekas untuk dijual Rp 1.500 per kilogramnya.

Ketika mendapat pemberitahuan tunggakan dari Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya, keduanya sama-sama terkejut, bingung dan ketakutan.

“Wah, saya kaget, langsung tidak bisa tidur. Kami ya takut, bagaimana kalau harus membayar, padahal uangnya tidak ada,” ujar Suliyah, dengan raut khawatir, yang ditimpali anggukan setuju oleh Sri.

Hingga wawancara dengan Surya, Suliyah masih belum memberitahu anaknya soal tunggakan yang mencapai Rp 10,6 juta. Sebaliknya, anak Sri sudah tahu tunggakan Rp 11,529 juta.

Tetapi Sri mengaku, tetap tak bisa membayar sebanyak itu, karena anaknya hanyalah pekerja freelance dengan pendapatan tidak tetap.

“Sebenarnya tidak masalah jika disuruh membayar, tetapi ya perbulan. Kalau tiba-tiba langsung ditodong Rp 11 juta lebih begini kami juga tidak mungkin bisa membayar. Anak saya perbulan memberi uang ke saya tidak tentu, kadang Rp 500 ribu, bisa kurang, bisa lebih sedikit,” ujar nenek dari tiga cucu ini.

Perempuan yang tinggal di blok A 408 ini menunjukkan tiga lembar bukti pembayaran, satu di antaranya berupa kuitansi. Bukti-bukti itu menunjukkan dirinya telah membayar Rp 60.000 setiap bulan sejak 18 Juni 2008, dan terakhir Mei 2009.

“Dulu bayar ke Pak Novi dan Pak Salam dari Pemkot, bayarnya di bawah situ (menunjuk lantai bawah). Perbulan Rp 60 ribu. Terus kan orang-orang minta keringanan, setelah itu kok tidak ada tagihan. Kami kira kembali seperti rusun yang dulu setelah kebakaran, itu dulu memang tidak bayar,” terang Sri.

Keduanya berharap, Pemkot dan rusun bisa menemukan jalan tengah, yang tidak mengharuskan mereka bayar sejumlah tunggakan itu.

“Kami sudah nyaman tinggal di sini, tidak ingin pindah ke tempat lain,” katanya.

Penulis: Delya Octovie
Editor: Parmin
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help