Berita Jawa Timur

55 Persen SMK di Jatim Tak Punya Laboratorium, ini Upaya Khofifah

Khofifah memiliki sejumlah rencana untuk memajukan pendidikan SMK yang 55 persen di Jatim tak punya laboratorium. Ini upayanya

55 Persen SMK di Jatim Tak Punya Laboratorium, ini Upaya Khofifah
surabaya.tribunnews.com/ahmad zaimul haq
Calon Gubernur Jaitm, Khofifah Indar Parawansa saat hadir dalam Halal Bi Halal dan Manaqib Qubro di Yayasan Khadijah Surabaya, Minggu (29/7). 

SURYA.co.id | SURABAYA - Pendidikan jenjang SMA/SMK di Jatim menjadi salah satu fokus pembicaraan Khofifah Indar Parawansa dengan Gubernur Jatim, Soekarwo, akhir pekan lalu. 

Khofifah ingin agar ada peningkatan kualitas pendidikan SMK.

Sebab saat ini sekitar 55 persen sekolah SMK belum memiliki laboratorium untuk para siswa belajar praktik.

"Kemarin memang cukup lama kami bertemu dengan Pakde sekitar tiga jam. Nah saya sampaikan pendidikan gratis dan berkualitas TisTas di mana 40 persen warga dengan tingkat terendah bisa mendapatkan pendidikan gratis berkualitas," kata Khofifah usai hadir dalam acara Halal Bi Halal dan Manaqib Kubro di Yayasan Pendidikan Khadijah, Minggu (29/7/2018).

Kata Khofifah, saat ini secara nasional Jawa Timur juga menerapkan komposisi 70 persen SMK dan 30 SMA, maka peningkatan kualitas sekolah SMK juga harus dimulai.

Terutama untuk juga meninggalkan opini publik bahwa kalau sekolah di SMK tidak bisa melanjutkan ke perguruan tinggi. Padahal menurut Khofifah tidak benar.

"Hari ini sekitar 55 persen sekolah SMK belum punya laboratorium. Maka hal ini harus diurai, apakah mereka akan disiapkan laboratorium bersama atau penggunaan tempat magang bersama," kata Khofifah.

Baca: Bahas Masalah Jatim bersama Jokowi saat Jalan Sehat, Khofifah Sebut kini Ada yang Beda

Sehingga ia berharap eksistensi SMK bisa tetap sesuai dengan seluruh kualifikasi SMk yang semestinya. Sebab yang memiliki laboratorium hanya 45 persen.

Tidak hanya itu, Khofifah juga menyampaikan bahwa SMA SMK berbasis pesantren juga menjadi pembahasan saat bertemu Pakde Karwo pekan lalu.

Lantaran ada pembatasan dari Mendikbud tidak boleh mendirikan sekolah baru secuali sekolah filial atau kelas jauh banyak sekolah yang terkendala bisa menerima murid.

Sebab saat ini trennya banyak orang tua yang lebih suka mendaftarkan anak-anaknya ke pesantren atau sekolah yang memiliki asrama. Karena itu, beberapa sekolah di wilayah Jawa Timur sudah jauh melampaui kuota.

"Maka bagimana sekolah pesantren bisa menyiapkan sekolah filial sehingga bisa berseiring dengan akademik achivemen yang ada di sekolah itu," kata Khofifah.

Penulis: Fatimatuz Zahro
Editor: Eben Haezer Panca
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help