Berita Surabaya

Tiga Mahasiswa Unair Ini Ubah Tulang Ikan Kakap Sebagai Solusi Penyembuhan Patah Tulang

Ide mereka ini juga diusulkan dalam Program Kreativitas Mahasiswa Penelitian Eksakta dan memperoleh dana penelitian

Tiga Mahasiswa Unair Ini Ubah Tulang Ikan Kakap Sebagai Solusi Penyembuhan Patah Tulang
surya/sulvi sofiana
Diana Fitri, Juliani Nurazizah Setiadiputri, dan Firza ketika melakukan penelitian di Laboratorium FST Universitas Airlangga, Sabtu (28/7/2018) 

SURYA.co.id | SURABAYA - Kerusakan tulang akibat kecelakaan selama ini sering terjadi, terutama di Indonesia.

Kerusakan tulang ini merupakan pengurangan massa atau hancurnya jaringan pada tulang, yang penyebab diduga karena cacat, tumor, kecelakaan, kelainan kongenital, kurangnya mineral, degenerasi, pola aktivitas yang buruk, dan juga trauma.

Melihat permasalahan tersebut, tiga mahasiswa prodi S1 Teknik Biomedis Fakultas Sains dan Teknologi (FST) Universitas Airlangga (Unair) melakukan inovasi atas bone graft (cangkok tulang) sebagai solusi dalam penyembuhan patah tulang.

Mereka yaitu Diana Fitri (20), dengan dua temannya, Juliani Nurazizah Setiadiputri (20) dan Firza (20) yang menjadikan cangkok tulang dengan memanfaatkan tulang ikan kakap putih (Lates calcarifer) sebagai bahan alam yang mudah ditemukan di Indonesia.

“Ketika melakukan penyembuhan kasus patah tulang, dokter mempunyai berbagai cara. Misalnya dengan pemberian growth factor, injeksi darah sumsum tulang, pemberian stem cells, dan operasi rekonstruksi pada bagian tulang yang hilang. Namun, penggunaan metode ini seringkali menimbulkan permasalahan, misalnya lamanya proses penyembuhan dan menyatunya kembali jaringan tulang yang hilang,” papar Diana yang juga ketua tim, Sabtu (28/7/2018).

Ide mereka ini juga diusulkan dalam Program Kreativitas Mahasiswa Penelitian Eksakta dan memperoleh dana penelitian dari Kemenristekdikti dalam program PKM 2018.

“Penelitian ini memanfaatkan biowaste berbasis ikan yang berpotensi mengurangi masalah lingkungan, serta mendukung pembangunan lingkungan yang berkelanjutan,” tambah Juliana.

Metode cangkok tulang ini dipilih karena menurutnya memiliki kekuatan mekanik yang baik.

Sehingga tahan terhadap beban mekanik dari luar maupun dalam tubuh dan memiliki ukuran pori yang sesuai untuk sel-sel tulang beregenerasi.

”Jadi hasil penelitian kami memiliki kelebihan pada proses healing (penyembuhan) tulang menjadi lebih cepat dan tahan terhadap beban yang ditimbulkan oleh gerakan tubuh,” ungkap mahasiswa semester lima ini.

Juliana menegaskan, timnya berusaha untuk menciptakan inovasi di bidang kesehatan, sehingga Indonesia tidak hanya menjadi negara konsumen, tetapi pelan-pelan bisa menjadi negara produsen di berbagai aspek, terutama di bidang kesehatan yang saat ini selalu dibutuhkan.

”Kami berharap bone graft yang kami buat ini dapat menjadi salah satu bukti bahwa mahasiswa Indonesia mampu menunjukkan inovasi-inovasinya, terutama di bidang kesehatan,” pungkas Juliana.

Penulis: Sulvi Sofiana
Editor: Titis Jati Permata
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved