Ekonomi

Fundamental Ekonomi Indonesia Beri Dukungan Daya Tahan di Tengah Gejolak Perekonomian Global

PT Bank UOB Indonesia menyebutkan bahwa Indonesia memiliki daya tahan dalam menghadapi gejolak perekonomian global.

Fundamental Ekonomi Indonesia Beri Dukungan Daya Tahan di Tengah Gejolak Perekonomian Global
surabaya.tribunnews.com/sugiharto
Chief Economist UOB Indonesia, Enrico Tanuwidjaja menyampaikan paparannya saat Economic Outlook2018 di Hotel Sheraton Surabaya, Kamis (26/7/2018). 

SURYA.co.id | SURABAYA - PT Bank UOB Indonesia (UOB lndonesia) memproyeksikan Produk Domestik Bruto (PDB) nasional akan mencapai 5,3 persen pada akhir tahun 2018 didukung oleh fundamental ekonomi yang kuat.

Proyeksi tersebut disampaikan dalam seminar "UOB Indonesia Economic Outlook 2018: Resilient Economy in a Turbulent World" yang digelar di Surabaya, Kamis (26/7/2018), yang diikuti oleh lebih dari 300 peserta. 

"Pertumbuhan perekonomian Indonesia akan didukung oleh kekuatan fundamental makro, permintaan dalam negeri yang tinggi, serta semakin membaiknya sektor eksternal, seperti posisi cadangan devisa yang lebih tinggi dan lebih baiknya pengelolaan defisit transaksi berjalan," kata Enrico Tanuwidjaja, Chief Economist UOB lndonesia, saat menjadi salah satu narasumber bersama Gunawan Tjokro, perwakilan dari Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO) dan dipandu oleh Aiman Witjaksono, news anchor Kompas TV.

Menurut Enrico, faktor-faktor tersebut akan membuat kinerja perekonomian Indonesia lebih sehat dan berdaya tahan tinggi apabila dibandingkan dengan kinerja perekonomian pasar-pasar negara berkembang lainnya.

Sementara faktor-faktor global yang berisiko yang dapat menjadi tantangan bagi daya tahan perekonomian Indonesia, masih terkait dengan Amerika Serikat (AS). Yaitu gejolak di pasar keuangan global yang disebabkan oleh tiga faktor.

"Yaitu ketegangan perdagangan antara Amerika Serikat dan Tiongkok termasuk kemungkinan langkah Tiongkok selanjutnya, kenaikan tingkat suku bunga dari Bank Sentral AS, The Fed, dan dampak dari kejadian geopolitik di pasar global,” jelas Enrico.

Untuk menjaga stabilitas perekonomian nasional, pihaknya melihat kebijakan moneter Pemerintah Indonesia telah bergerak ke arah yang benar.

Sementara dalam menghadapi gejolak eksternal secara umum dan risiko-risiko yang lebih besar dari kenaikan suku bunga The Fed tahun ini dan tahun depan, Enrico memproyeksikan Bank Indonesia akan menaikkan tingkat suku bunga sebesar 50 bps secara kumulatif ke angka 5,75 persen hingga akhir tahun ini.

"Sementara rupiah kami proyeksikan akan stabil di angka Rp14.700 per dolar AS pada akhir tahun 2018. dan secara bertahap akan mengalami depresiasi ke angka Rp14.900 per dolar AS pada pertengahan tahun 2019," ungkapnya.

Berbagai proyek infrastruktur serta peningkatan dalam hal kemudahan berinvestasi seperti diluncurkannya Online Single Submission (OSS), sebuah sistem aplikasi elektronik untuk seluruh registrasi bisnis dan percepatan proses peijinan, merupakan bukti komitmen pertumbuhan ekonomi dengan kualitas yang lebih baik dari Pemerintah Indonesia.

Halaman
12
Tags
UOB
Penulis: Sri Handi Lestari
Editor: Parmin
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help