Perbankan

Perbankan Tetap Bisa Naikkan Laba Tanpa Harus Naikan Suku Bunga Kredit Ikuti Kenaikan SBI

Perbankan tidak perlu ikut menaikkan suku bunga kredit setelah kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia sejak Juni 2018

Perbankan Tetap Bisa Naikkan Laba Tanpa Harus Naikan Suku Bunga Kredit Ikuti Kenaikan SBI
surabaya.tribunnews.com/sri handi lestari
Solarduga Napitupulu (kanan), Direktur Pengawasan Lembaga Jasa Keuangan I Kantor Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Regional IV Jawa Timur, Rabu (25/7/2018). 

SURYA.co.id | SURABAYA - Imbas dari kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia (SBI) sejak akhir Juni 2018 lalu sebesar 5,25 persen, bisa dihadapi perbankan dengan tidak perlu ikut menaikkan suku bunga kreditnya.

"Perbankan ikut menaikkan suku bunga kredit agar labanya bisa tetap tumbuh. Namun saat ini banyak kelonggaran, seharusnya perbankan tidak perlu naikan bunga kredit maupun simpanan," kata Solarduga Napitupulu, Direktur Pengawasan Lembaga Jasa Keuangan I Kantor Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Regional IV Jawa Timur, Rabu (25/7/2018).

Perbankan bisa melakukan beberapa langkah untuk tetap menaikkan laba usaha ditengah kenaikan BI rate ini. Yaitu dengan melakukan penambahan volume usaha, kemudian meningkatkan pendapatan di sektor fee base income dan menggunakan teknologi untuk mengurangi biaya operasional.

"Kami juga berharap deposan besar tidak terlalu responsif untuk menaikkan suku bunga deposito. Deposan besar juga diharpakan menggunakan alternatif sumber pendanaan pasar modal yang lebih murah sehingga tercipta sinergi antara perbankan dan pasar modal," tambah Solarduga.

Sementara itu, dalam rapat Dewan Komisioner (RDK) bulanan OJK di Juli ini menilai bahwa stabilitas sektor jasa keuangan dan kondisi likuiditas di pasar keuangan Indonesia masih dalam kondisi terjaga, di tengah ketidakpastian pasar keuangan yang dipicu sentimen negatif dari eskalasi perang dagang AS dan Tiongkok telah mendorong pelemahan pasar keuangan global.

IHSG pada Juni 2018 melemah sebesar 3,08 persen dan ditutup di level 5.799,2, dengan investor nonresiden mencatatkan net sell sebesar Rp 9,1 triliun. Namun, memasuki Juli 2018 tekanan sedikit mereda, IHSG pada 24 Juli 2018 ditutup di level 5.931,8 atau tumbuh 2,29 persen sejak awal Juli 2018, dan mencatatkan net buy investor nonresiden sebesar Rp795 miliar, meski jika dihitung sejak awal 2018 masih mencatatkan net sell sebesar Rp50,2 triliun.

Sementara itu, kinerja lembaga keuangan di Jatim, dari sisi pertumbuhan aset di bisa lebih tinggi dari nasional. Yaitu tumbuh 9,39 persen, dimana nasional hanya 7,91 persen.

"Selanjutnya DPK (Dana Pihak Ketiga) di Jatim tumbuh 9,89 persen, nasional hanya 6,55 persen. Hal ini menunjukkan stabilitas lembaga jasa keuangan di Jatim masih berjalan baik," ungkap Solarduga.

Sementara itu ditempat terpisah, Harmanta, Deputi Kepala Perwakilan Kantor Bank Indonesia Provinsi Jawa Timur, menambahkan, seiring dengan optimisme kondisi ekonomi Indonesia, perekonomian di
Jatim pada triwulan I 2018 tetap tumbuh tinggi sebesar 5,5 persen (yoy), lebih tinggi dibandingkan laju pertumbuhan ekonomi nasional yang mencapai 5,1 persen.

"Dan di triwulan II 2018 lebih optimis dengan diperkirakan tumbuh lebih tinggi dibandingkan triwulan I 2018 karena ditopang oleh potensi kenaikan konsumsi rumah tangga, konsumsi pemerintah, dan investasi," jelas Harmanta.

Halaman
12
Penulis: Sri Handi Lestari
Editor: Eben Haezer Panca
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help