Berita Surabaya

Tato Mentawai Tertua di Dunia, Tintanya Terbuat dari Arang dan Air Tebu

"Di Indonesia ada dua tato tertua, yang kedua adalah Dayak, dan kami yang tertua. Ini perlu diketahui oleh khalayak ramai"

Tato Mentawai Tertua di Dunia, Tintanya Terbuat dari Arang dan Air Tebu
SURYAOnline/Delya Octovie
Laulau Kanai (kiri) seorang Sipatiti alias pembuat tato, sedang membuat tato di tangan Widia Chatt, seorang warga Surabaya kelahiran Ternate, Maluku Utara. Bagi masyarakat Mentawai, tato bermakna filosofis yang menggambarkan keseimbangan dalam kehidupan, juga mengandung nilai-nilai kearifan lokal yang diwariskan turun-menurun. 

SURYA.co.id | SURABAYA – Widia Chatt duduk santai sambil menaruh lengannya di atas kursi. Ia tak bergeming meski Laulau Kanai, seorang Sipatiti, sedang memukul-mukul sebuah alat yang memiliki jarum diujungnya menggunakan sebuah kayu, menusuk tangan kiri bagian dalamnya, dekat lipatan siku.

“Tidak sakit kok, rasanya seperti dicubit-cubit. Masih lebih sakit gigitan semut,” kata perempuan asli Ternate, Maluku Utara tersebut.

Widia meminta dirinya ditato setelah mendengar makna tato bagi para masyarakat asli Kabupaten Kepulauan Mentawai, dalam acara ‘Mentawai Night 2018’ di atrium Pakuwon Mall Surabaya, Sabtu (21/7/2018).
Ini adalah tato keenam Widia.

Namun, tato Mentawai sengaja ia taruh di tangan kirinya, bersama dengan dua tato yang sangat berarti baginya.

“Yang bawah ini tato wajah suami saya, yang atas mata anak saya. Saya memilih tato matahari di atas tato suami dan anak saya, karena matahari bagi orang Mentawai berarti sesuatu yang sangat penting di kehidupan, seperti cahaya,” jelasnya.

Tato Mentawai Memiliki Banyak Arti

Bahkan ada tato yang khusus menggambarkan kehidupan perempuan Mentawai yang berperan aktif dalam keseharian masyarakat Mentawai, dengan motif mirip laba-laba air.

“Ada juga motif duri rotan, itu kan kalau baju tersangkut duri rotan bisa robek, jadi maknanya kekuatan. Ada juga panah, keseimbangan, mata pancing, sampai pasir pantai yang memiliki makna tumpuan, pijakan hidup,” jelas Andre, staff Dinas Pariwisata Kabupaten Kepualauan Mentawai.

Bagi masyarakat Mentawai, tato barulah lengkap jika sudah memenuhi bagian bawah pipi sampai hampir menyentuh pergelangan kaki.

Tidak ada batasan usia, siapapun bisa mendapatkan tato jika sudah siap dengan rasa sakitnya menurut Andre.

Tetapi dibanding tato teknik modern yang sudah pernah Widia dapat, tato Mentawai tidak terasa sakit sama sekali, meski bersifat permanen.

“Sakit tidaknya proses tato itu tergantung lokasinya. Semakin dekat dengan tulang, ya semakin sakit. Lalu tingkat profesionalitas artisnya juga memengaruhi. Semakin pro, semakin tidak sakit tatonya,” ujarnya.

Tato Mentawai Merupakan Tato Tertua di Dunia

Bagi masyarakat Mentawai, tato bermakna filosofis yang menggambarkan keseimbangan dalam kehidupan, juga mengandung nilai-nilai kearifan lokal yang diwariskan turun-menurun.

Budaya tato ini dijadikan poin penarik wisatawan Indonesia yang ingin melihat maupun merasakan sendiri pengalaman tato tradisional.

“Di Indonesia ada dua tato tertua, yang kedua adalah Dayak, dan kami yang tertua. Ini perlu diketahui oleh khalayak ramai, karena tato kami baru terkenal di luar negeri saja,” tutur Bupati Kepulauan Mentawai Yudas Sabanggalet.

Penulis: Delya Octovie
Editor: Cak Sur
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help