Berita Mojokerto

Siswi SMAN 1 Gondang Terancam Lumpuh, Dindik Evaluasi Kinerja Kepala Sekolah: Pasti Ada Kejutan

Datang terlambat saat pelatihan, Mashanum Dwi Aprilia dihukum skot jump puluhan kali hingga menderita cedera serius pada bagian tulang belakang

Siswi SMAN 1 Gondang Terancam Lumpuh, Dindik Evaluasi Kinerja Kepala Sekolah: Pasti Ada Kejutan
SURYAOnline/Mohammad Romadoni
Mashanum Dwi Aprilia (16) siswi SMAN 1 Gondang, Mojokerto terancam lumpuh yang diduga karena hukuman skot jump 

SURYA.co.id | MOJOKERTO - Kasus kekerasan terhadap Mashanum Dwi Aprilia (16) siswi SMAN 1 Gondang Mojokerto, yang terancam lumpuh diduga setelah diberi hukuman skot jump oleh anggota dan seniornya bisa menjadi pengalaman berharga untuk pihak sekolah agar tidak menyepelekan pengawasan setiap kali ada kegiatan siswa di sekolahnya.

Hanum dihukum skot jump puluhan kali hingga menderita cedera serius pada bagian tulang belakang hingga beresiko mengalami kerusakan sistem jaringan saraf secara permanen, lantaran tidak sengaja datang terlambat saat pelatihan Unit Kegiatan Kerohanian Islam (UKKI) pada Jumat (13/7/2018) kemarin.

Baca: Terkait Kasus Hanum, Dindik Jatim Imbau Sekolah Lebih Sosialisasikan SOP Kegiatan Kesiswaan

Baca: Ini Kondisi Terakhir Siswi SMAN 1 Gondang Mojokerto yang Terancam Lumpuh Akibat Dihukum Skot Jump

Baca: Siswi SMAN 1 Gondang Terancam Lumpuh Usai Dihukum Skot Jump. Ini Fakta di Baliknya

Adanya hukuman skot jump hingga menyebabkan siswinya celaka ini turut menunjukkan betapa lemahnya tanggung jawab dari pihak sekolah terhadap keselamatan peserta didiknya sehingga kegiatan tersebut luput dari pengawasannya.

Cabang Dinas Pendidikan (Dindik) Jawa Timur Wilayah Kota/Kabupaten Mojokerto menilai adanya unsur kelalaian oleh pihak pembina Ekskul maupun dari pihak sekolahnya sehingga terjadi kasus hukuman skot jump yang dialami Hanum hingga menderita kelumpuhan.

Mariyono, Kepala Cabang Dindik Jawa Timur Wilayah Kota/Kabupaten Mojokerto menjelaskan kejadian ini bisa menjadi pelajaran bagi semua tidak hanya di SMAN 1 Gondang melainkan juga sekolah di seluruhnya wilayah Mojokerto.

"Sangat keterlaluan jika pembina Ekskul UKKI sampai tidak mengetahui kegiatan anggotanya," ujarnya, Sabtu (21/7/2018).

Karena itulah, kata dia, pembinaan maupun pihak sekolah harus ada pengawasan melekat ketika ada kegiatan Ekskul yang menyangkut siswa di lingkungan sekolahnya. Ini dilakukannya agar bisa mengawasi dan meluruskan jika ada kesepakatannya yang keliru seperti hukuman skot jump.

"Mereka kan (siswa) punya pembina dan kepala sekolah harus ada pengawasan yang melekat," ungkapnya.

Mariyono menegaskan menindaklanjuti kejadian ini pihaknya akan segera melakukan evaluasi terhadap kinerja Kepala Sekolah yang bersangkutan.

Selain itu, pihaknya telah mengantongi laporan penilaian kinerja kepala sekolah yang terindikasi banyak bermuatan 'rapot merah'.

Nantinya, kata dia, evaluasi penilaian kinerja kepala sekolah tersebut akan dipertimbangkan kepada Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur. Pihaknya juga akan melampirkan kronologi kejadian hukuman fisik skot jump terhadap Hanum yang telah dibuat Kepala Sekolah SMAN 1 Gondang, Nurul Wakhidah.

Halaman
12
Penulis: Mohammad Romadoni
Editor: Cak Sur
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved