Sekolah Gratis di Jatim

Menyisipkan Pembinaan Mental dan Karakter ke Dalam Pendidikan Untuk Rakyat Tak Mampu

Pembinaan mental dan karakter penting untuk dimasukkan dalam pendidikan yang menyasar anak-anak kurang mampu. Ini alasannya.

Menyisipkan Pembinaan Mental dan Karakter ke Dalam Pendidikan Untuk Rakyat Tak Mampu
surabaya.tribunnews.com/aflahul abidin
Drs Martadi, Pengamat Pendidikan Universitas Negeri Surabaya 

Oleh : Drs Martadi MSn, Pengamat Pendidikan Unesa

SEKARANG ini pendidikan sudah mulai menyentuh orang-orang yang tidak punya akses. Terutama orang-orang kurang mampu. Selama ini pemerintah sudah banyak melakukan program untuk itu, tapi belum menjangkau semua lini.

Kemudian beberapa lembaga dan yayasan yang konsen terhadap pendidikan, membuat sekolah untuk menampung anak-anak tidak mampu dan membebaskan biaya agar tetap mendapat layanan pendidikan yang bagus.

Apakah lembaga pendidikan seperti itu kemudian tidak berkualitas? Belum tentu. Ada banyak contoh di Jawa Timur, sekolah gratis total yang berkualitas dan menampung anak-anak dari berbagai daerah. Termasuk luar Jawa.

Biasanya, yayasan dan lembaga ini di-back up oleh donatur yang menyiapkan fasilitas dan operasional sekolah.

Mereka menghimpun dana masyarakat atau dana dari perusahaan besar yang ingin menyalurkan tanggung jawab social perusahaan (CSR). Mereka mengelola itu menjadi fasilitas pendidikan untuk anak kurang mampu. Dan menurut saya, itu salah satu upaya membantu pemerintah dalam rangka menjalankan amanat UUD 1945 pasal 31.

Ada dua hal yang harus dijaga sebuah sekolah gratis yang orientasinya seperti saya sebut di atas.

Pertama, keberlanjutan dana, fasilitas, dan sumber daya manusia (SDM) agar dapat memastikan dan menjamin proses pembelajaran tetap berkualitas.

Caranya ada banyak. Ada lembaga atau yayasan yang hanya mengandalkan donatur. Tapi donatur umumnya fluktuatif. Mereka bisa juga membuat unit usaha yang memberdayakan untuk mengumpulkan dana untuk operasional sekolah.

Kedua, yang harus dijaga juga adalah komitmen dan motivasi dari anak yang bersekolah. Anak kurang mampu terbagi menjadi dua: keuangan dan mental. Juga gabungan dari keduanya. Sekolah harus membangun program yang membuat anak tetap termotivasi, setidaknya mentalnya, untuk menyelesaikan pendidikan dengan sebaik mungkin.

Tanpa motivasi pada anak, proses pembelajaran baik pun akan tetap jadi masalah. Selain itu, harus ada motivasi dari orang tua. Ini berlaku bagi anak kurang mampu yang masih memiliki bapak atau ibu. Apabila hal-hal itu bisa dipastikan, saya yakin sebuah lembaga yang gratis bisa memberi layanan pendidikan yang berkualitas.

Selain akademik, sekolah yang mewadahi anak-anak kurang mampu perlu juga menyisipkan program pembinaan mental karakter. Sehingga anak akan punya keberanian maju, mengubah nasib, dan motivasi sejenisnya. Ini yang lebih penting ketimbang akademik. Tanpa pembinaan mental karakter, akademik yang baik tak akan berjalan maksimal. Maka, ada banyak lembaga yang memberikan asrama untuk pembinaan mental. Termasuk juga pemberian keterampilan untuk modal anak setelah lulus.

Kualitas pendidikan memang diukur melalui akreditasi. Tapi ini hanya sekadar bentuk pengakuan pemerintah untuk menentukan level. Untuk sekolah alternatif seperti yang saya sebut itu, mereka sering kali tidak maksimal dari sisi akreditasinya. Tapi ini tak menjadi masalah penting. Karena ukuran terpenting dari sekolah alternatif adalah kemandirian anak setelah lulus.

Menurut saya, peran pemerintah masih harus dimaksimalkan bagi sekolah-sekolah seperti ini. Pemerintah harus berterima kasih, karena lembaga ini sudah membantu tugasnya: memelihara orang miskin dan telantar.

Maka pemerintah seharusnya memperkuat dan mendukung mereka. Selama ini dukungan yang ada belum maksimal. Ada beberapa yang mendapat bantuan dan program tapi belum rutin.

Penulis: Aflahul Abidin
Editor: Eben Haezer Panca
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved