Berita Banyuwangi

Memaknai Kerukunan Umat Beragama di Antaboga Banyuwangi

Di tengah hutan, Kecamatan Glenmore, Banyuwangi, terdapat tempat sejuk dan tenang, yang dikunjungi umat dari berbagai agama.

Memaknai Kerukunan Umat Beragama di Antaboga Banyuwangi
Surya.co.id/haorrahman
Antaboga kawasan peribadatan dari berbagai agama. 

SURYA.co.id | BANYUWANGI - Di tengah hutan, Kecamatan Glenmore, Banyuwangi, terdapat tempat sejuk dan tenang, yang dikunjungi umat dari berbagai agama. Tempat itu bernama Antaboga, yang kini menjadi destinasi wisata religi.

Antaboga terletak di kawasan Kesatuan Pengolahan Hutan (KPH), Banyuwangi Barat, Kecamatan Glenmore, Kabupaten Banyuwangi. Di tempat ini, tempat beribadah, Hindu, Islam, Katolik, Kristen, Budha, hingga Konghuchu, berada dalam satu kompleks di lahan seluas tiga hektare milik Perhutani.

Simbol-simbol agama itu berada berdekatan yang dikelilingi rimbunnya hutan pinus. Tenang, damai, dan sejuk saat memasuki tempat ini.

"Di sini semua orang bisa beribadah sesuai kepercayaan masing-masing," kata Kadek Beli, salah satu penjaga sekaligus tour guide Antaboga.

Toleransi terasa kental di area ini. Seperti penjaga Antaboga, terdapat umat berbagai agama. Kadek yang berasal dari Kuta, Bali dan beragama Hindu, ditemani penjaga lainnya dari berbagai agama.

"Semua agama masuk di tempat ini. Saya tidak hanya menjaga tempat ibadah saya sendiri, tapi juga agama yang lainnya," kata Kadek.

Tempat ini dikenal Antaboga karena terdapat pura Antaboga. Di sekitar pura terdapat pemandian air suci yang dipercaya bisa menyembuhkan penyakit, dan boleh digunakan oleh semua pengunjung tidak hanya untuk umat Hindu saja.

"Pemandian ini dipercaya bisa menyembuhkan penyakit. Semua bisa mandi di sini. Untuk berdoa sesuai kepercayaan masing-masing," ujarnya.

Tidak jauh dari lokasi pura, terdapat Patung Dewi Kwam Im yang merupakan simbol kepercayaan umat Budha.

Sekitar 20 meter dari patung Dewi Kwam Im, terdapat patung Bunda Maria dan Yesus yang dibangun terpisah tidak jauh. Tidak jauh dari patung Bunda Maria dan Yesus, terdapat musala untuk beribadah umat muslim.

Memasuki area Antaboga, pengunjung harus mengenakan pakaian sopan. Tidak diperbolehkan mengenakan celana pendek.

"Boleh menginap di sini. Terdapat pondok dan gazebo. Tapi tidak boleh ramai dan membawa banyak makanan. Kalau sekadar nasi kotak atau bungkus saja tidak masalah," kata Kadek.

Belum ada catatan resmi sejak kapan Antaboga ini ada. Dalam mitologi Bali, Antaboga disebut sebagai dewa ular raksasa yang hidup di dasar bumi. Antaboga dikisahkan dalam permulaan bumi diciptakan. Ada juga yang menyebut, Anta sebagai tempat dan Boga yang berarti makan.

Selama ini, pengunjung yang datang ke Antaboga tidak dikenakan tarif tiket masuk. Menurut Kadek, pengunjung bisa berdonasi untuk perawatan tempat ibadah.

Tiap pekan pengunjung yang datang ke Antaboga bisa mencapai 500 orang . Pengunjung berasal dari berbagai daerah di Indonesia.

Penulis: Haorrahman
Editor: Parmin
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help