Berita Surabaya

Indonesia Memasuki Era ‘New Normal’, Investasi Harus Penuh Strategi

Perekonomian Indonesia tengah memasuki kondisi 'new normal' yang harus diwaspadai pemerintah dan investor

Indonesia Memasuki Era ‘New Normal’, Investasi Harus Penuh Strategi
kompas.com
ilustrasi investasi 

Menghadapi ketidakpastian dan volatilitas yang terjadi di pasar finansial, Budi mengatakan agar para investor dapat menurunkan ekspektasi investasi.

"Investor sebaiknya menurunkan ekspektasi imbal karena volatilitas pasar yang tak menentu. Pasar obligasi akan lebih menantang sebab valuasinya secara eksternal terakit angka akhir yield T-bond. Sementara, potensi kenaikan pasar saham terkait dengan rotasi sektoral yang lebih diuntungkan oleh penguatan dollar, kenaikan harga minyak dan penguatan kualitas infrastruktur serta penguatan daya beli masyarakat," paparnya.

Menurut Budi, pasar obligasi masih tertekan dengan aksi jual investor asing sebagai efek membaiknya perekonomian AS dan penguatan Dolar AS terhadap mata uang negara berkembang, termasuk Indonesia.

Ia mengungkapkan, adanya arus modal asing yang keluar dari pasar obligasi sekitar USD 600 juta untuk pertama kalinya sejak 8 tahun terakhir.

Tahun lalu, pasar obligasi masih mengalami capital inflow sebesar USD 12,5 miliar.

Meski demikian, investor lokal dapat mengambil kesempatan untuk berinvestasi di pasar obligasi karena imbal hasil (yield) obligasi semakin tinggi berarti semakin menarik.

Ia mencontohkan, jika yield SUN tenor 10 tahun menjadi 8 persen per tahun. Artinya, setiap tahun investor akan memperoleh imbal hasil sebesar 8 persen dalam setahun.

Angka ini jelas menarik bagi investor domestik mengingat sangat kecil kemungkinan inflasi per tahun selama 10 tahun mendatang melebihi 8,5 persen.

Terkait penurunan partisipasi investor asing di pasar modal Indonesia merupakan dampak rebalancing stock pada indeks MSCI.

Alokasi untuk emiten Indonesia diturunkan untuk mengantisipasi masukannya emiten dari China.

"Memang ini tantangan bagi pemerintah, mengingat bursa China menawarkan growth selain likuiditas. Itu sebabnya pemerintah harus memacu pertumbuhan. Bila ini berhasil, makan ini merupakan opportunity bagi investor domestik memanfaatkan valuasi yang lebih murah," tandas Budi.

Penulis: Sri Handi Lestari
Editor: irwan sy
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help