Berita Gresik

BPBD Gresik Klaim Daerah Kekeringan Berkurang. Ini Penyebabnya

Program normalisasi waduk dan sumur resapan Pemkab Gresik dan TMMD membuat daerah kekeringan berkurang.

BPBD Gresik Klaim Daerah Kekeringan Berkurang. Ini Penyebabnya
surya/sugiyono
Petugas BPBD Kabupaten Gresik memeriksa kendaraan operasional untuk membantu warga yang terdampak kekeringan, Rabu (11/7/2018). 

SURYA.co.id | GRESIK - Daerah kekeringan di Gresik terus berkurang. Hal ini setelah adanya program normalisasi waduk dan sumur resapan yang dibuat untuk mengawasi bencana banjir dan kekeringan.

Ketua BPBD Kabupaten Gresik, Tarso, mengatakan bahwa perkiraan jumlah desa yang berpotensi terkena bencana alam kekeringan sudah menurun. Hal ini disebakan karena sudah adanya program normalisasi waduk dan adanya sumur resapan yang dibuat oleh Pemkab Gresik dan TNI melalui program Tentara Manunggal Membangun Desa (TMMD).

Tarso juga menjelaskan bahwa jika pada 2017 jumlah desa yang berpotensi kekeringan itu sekitar 32 desa. Sekarang sudah menyusut tinggal 26 Desa. Jadi ada penurunan 6 desa yang tidak mengalami kekeringan dan sudah mendapatkan air bersih ketika musim kemarau.

"Penurunan desa berpotensi kekeringan ini setelah Pemkab Gresik bersama TNI melalui TMMD membuat program 1.000 sumur di beberapa desa yang sering terkena bencana kekeringan," kata Kepala BPBD Kabupaten Gresik, Rabu (11/7/2018).

Tarso menyebutkan bahwa 26 desa itu tersebar di 7 Kecamatan yaitu Kecamatan Benjeng, Cerme, Duduksampean, Kedamaian, Sidayu dan Bungah.

"Sampai saat ini belum ada desa yang mengajukan bantuan air bersih sehingga truk-truk masih siaga di kantor," imbuhnya.

Oleh karena itu, Tarso meminta agar masyarakat yang rawan terkena bencana kekeringan untuk bisa membuat sumur resapan dan menormalisasi waduk sehingga bisa menjadi penampungan air bersih.

Selain itu juga memperbanyak penghijauan agar air hujan dapat terserap di akarnya.

"Kami ajak masyarakat untuk sadar potensi desa tentang tanggap bencana sehingga warga bisa menyelamatkan diri saat ada bencana," imbuhnya.

Seperti yang disampaikan Abdul Ghofar warga Benjeng mengatakan bahwa saat ini warga masih memanfaatkan air waduk untuk keperluan sehari-hari, sehingga kebutuhan air bersih masih tercukupi.

"Biasanya warga harus membeli air bersih saat terkena kemarau panjang. Sebab, air waduk sudah keruh dan PDAM belum ada," kata Ghofar.

Penulis: Sugiyono
Editor: irwan sy
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help