Berita Surabaya

16 Tahun Pasca Bom Bali, Wayan Leniasih masih Trauma, Berharap Pemerintah Peduli Nasib Keluarganya

Duka mendalam Wayan Leniasih (40) asal Bali belum juga sembuh atas tragedi bom Bali telah berlalu 16 tahun lalu

16 Tahun Pasca Bom Bali, Wayan Leniasih masih Trauma, Berharap Pemerintah Peduli Nasib Keluarganya
SURYAOnline/Pipit Maulidiya
Wayan Leniasih saat diwawancara. 

Lina mengaku bukan dia saja satu-satunya yang masih mengalami trauma atas kejadian itu. Dua anaknya yang kini sudah tumbuh dewasa pun mengalami trauma yang sama.

Uring-uringan, merasa ingin diberikan perhatian lebih, hingga merindukan sosok ayah.

"Saya menyadari jika saya tidak bangkit dan berjuang melanjutkan hidup, bagaimana nasib anak-anak saya nanti," kata Lina berpikir saat itu, setelah sempat trauma berat hingga tak mau bersolek hingga tahun 2005.

Sampai saat ini pun Lina sering membawa anak-anaknya mengunjungi psikolog untuk konsultasi. Ini pun membuktikan bagaimana orang-orang tidak berdosa pun menerima akibat dari bom tak bertanggung jawab itu.

Lina bangkit, dan menjadi seorang pengajar di sekolah taman anak-anak (TK) hingga saat ini. Dari sana dia menghidupi dua anaknya yang terus tumbuh dewasa.

Pemerintah Kurang Peduli

Lina mengaku tidak pernah mendapatkan bantuan dari pemerintah Bali maupun Indonesia. Jika ada pun itu tak berlaku lama.

"Ada itu LPSK dari pemerintah cuma berjalan dua kali perjanjian saja setelah itu tak ada lagi kabarnya. Sudah 16 tahun saya pun belum merasakan bantuan pemerintah. Bukan hanya saya, ada puluhan teman-teman lain juga yang punya nasib sama sementara kami sendiri para perempuan belum bisa bekerja," katanya mengeluhkan perhatian pemerintah Bali dan Indonesia yang kurang tanggap.

Lina mengaku dia hanya mendapatkan bantuan yang dihimpun dari sukarela para turis asing. Misalnya Yayasan Bali Hati, dia mendapatkan Rp 600 per bulan selama tiga sampai lima bulan saja. Dan bantuan dari YKIP untuk biaya sekolaj anak-anak gratis TK dan SD.

"Beberapa anggota DPR memang datang dan memberikan uang sekali, yang banyak dokumentasinya. Saya sudah adukan ke pemprov Bali, saya juga datang ke bupati yang waktu itu janji di atas kuburan suami saya akan memberikan bantuan, tapi ternyata tidak ada kelanjutan. Hanya ditulis-tulis saja nama, alamat, dan nomor telepon," kata Leni kecewa.

Halaman
1234
Penulis: Pipit Maulidiya
Editor: Parmin
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved