Berita Surabaya

16 Tahun Pasca Bom Bali, Wayan Leniasih masih Trauma, Berharap Pemerintah Peduli Nasib Keluarganya

Duka mendalam Wayan Leniasih (40) asal Bali belum juga sembuh atas tragedi bom Bali telah berlalu 16 tahun lalu

16 Tahun Pasca Bom Bali, Wayan Leniasih masih Trauma, Berharap Pemerintah Peduli Nasib Keluarganya
SURYAOnline/Pipit Maulidiya
Wayan Leniasih saat diwawancara. 

Lina memang merasa Sukerna tidak seperti biasanya, namun dia diam saja dan tersenyum. Sebelum pergi bekerja, Sukerna berpesan kepada Lina untuk berhati-hati jangan sampai ada orang lain di antara mereka, serta perintah untuk menjaga anak-anak.

"Pukul 11.15 WITA saya tidur lelap, tiba-tiba ponsel berdering. Itu posel suami saya yang sengaja dia tinggal di rumah. Terdengar suara saudara kami bicara 'cepat hubungi suami, di Sari Club ada bom' bergitu katanya, saya panik," kata Lina sambil berusaha menginagt kembali masalalu yang sedih itu.

Lina mencoba menghubungi Sari Club, nada dering telepon aktif tapi tak ada yang mengangkat. Dia pun berusaha menelepon teman sang suami, terdengar juga nada dering namun lagi tak ada yang mengangkat telepon.

Lina pun berinisiatif membawa bayinya dua bulan untuk ke lokasi ledakan, mencari sang suami. Namun niatnya itu urung karena pemilik kos menghawatirkannya.

Sampai pukul 00.00 WITA tak ada kabar. Lina meminta bantuan teman-temannya untuk mencari suami di rumah sakit sambil membawa foto, namun tetap tak ketemu.

Tanggal 13 Oktober, satu hari pasca ledakan Lina pun disarankan tetangga dan keluarga mendatangi orang dengan kemampuan spiritual. Di sana dia mendapatkan jawaban, suaminya berada di dalam kantong kresek besar bersama korban Sari Club lainnya tanpa kepala dan tubuhnya hangus terbakar.

"Saat kami cari, ternyata betul. Kepalanya sudah tak ada, tinggal tubuhnya dari leher sampai kaki yang lengkap, namun dalam kondisi terpanggang. Kami sempat kesulitan mengidentifikasi jenazah karena sebagian tubuh terbakar, tapi kami beruntung menemukan identitas korban di celana belakang, disana saya yakin dia suami saya meski saat itu KTPnya sudah berbentuk serpihan," terang Lina.

Kenyataan pahit itu membuat Lina syok, dia pun putus asa dan sedih. Lina mengaku bahkan tak mau memberikan asi kepada bayinya yang baru berusia dua bulan. Jangankan menyusui menggendong pun Lina tak kuat.

Dia hanya menitihkan air mata dan belum bisa percaya.

Dua Anak Terpukul

Halaman
1234
Penulis: Pipit Maulidiya
Editor: Parmin
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved