Pilkada 2018

Rekaputulasi Suara KPU Usai, Khofifah Mulai Godog Program Strategis untuk Jadi Prioritas

Khofifah mengatakan bahwa pihaknya sudah menginventarisir tenaga ahli untuk penyiapan masa transisi.

Rekaputulasi Suara KPU Usai, Khofifah Mulai Godog Program Strategis untuk Jadi Prioritas
surya/mohammad romadoni
Calon Gubenur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa ketika mengunjungi MPS Trowulan PT Irutama (Ittihad Rahmat Utama) Desa Jatipasar, Kabupaten Mojokerto. 

SURYA.co.id | SURABAYA - KPU Jawa Timur sudah menyelesaikan rekapitulasi suara untuk Pilgub 2018, dan menyatakan pasangan calon gubernur dan calon wakil gubernur Khofifah Indar Parawansa - Emil Elestianto Dardak menang 53,55 persen atas pasangannya Syaifullah Yusuf - Puti Guntur Soekarno.

Dengan hasil ini, Khofifah mengaku kian mantap untuk memepersiapkan segala sesuatu untuk melaksanakan janji dan program yang sudah ia susun selama masa kampanye.

Dengan membentuk tim navigasi program, Khofifah mengatakan bahwa pihaknya sudah menginventarisir tenaga ahli untuk penyiapan masa transisi.

Ia juga sudah mengantongi rencana strategis yang akan dilakukan guna menyelesaikan permasalahan yang ada di Jawa Timur. Bahkan ia menyebut ada sejumah program yang diprioritaskan untuk segera dilaksanakan.

"Kalau namanya program 100 hari saya rasa bukan. Sebab tentu ada penyesuaian APBD kalau begitu. Yang jelas kami sudah mulai kerja sejak 7 hari yang lalu melalui tim navigasi program untuk mendapatkan rekomendasi strategis," kata Khofifah, Minggu (8/7/2018).

Ia juga mengapresiasi langkah Gubernur Jawa Timur Soekarwo yang juga menyiapkan tim transisi untuk membantu penyambungan program di masa pemerintahannya dengan masa pemerintahan lima tahun ke depan.

"Artinya Pakde Karwo memiliki goodwill untuk sustainability. Namun, kami tentunya juga ingin inovasi baru dalam lima tahun ke depan untuk meningkatkan kesejahteraan di Jawa Timur," kata Khofifah.

Ketua PP Muslimat NU ini menyebut, prioritas utamanya ke depan adalah masalah ketimpangan sosial. Ia menyebut ketimpangan atau gini rasio Jawa Timur kian tahun kian meningkat.

Terutama kemiskinan di desa, yang angkanya menurut Khofifah dua kali lebih tinggi dibandingkan dengan kemiskinan di kota.

"Lalu juga kami ingin ke depan ada communal branding. Banyak sentra produk A, B, C tapi mereka tidak memiliki branding, maka kami ingin mereka dapat program communal branding agar mereka bisa berdaya dengan produk yang mereka kembangkan," kata Khofifah.

Berikutnya, yang tak kalah penting menurut Khofifah adalah masalah peningkatan indeks pembangunan manusia (IPM). IPM Jawa Timur dikatakan Khofifah terendah dari seluruh provinsi di Jawa Timur.

Maka ia ingin meningkatkan kualitas IPM dari banyak lini. Salah satunya dari sisi pendidikan. Ia mengatakan pendidikan gratis berkualitas (Tis Tas) siap digelontorkan.

Masyarakat kurang mampu yang ia sebut dengan 40 persen masyarakat ekonomi terbawah akan memperoleh pendidikan gratis.

"Begitu juga dengan tenaga pendidiknya. Guru tidak tetap saat ini masih menjadi masalah. Tapi memang ada proporsinya. Tak semua bisa diangkat bergantung pada perbandingan dengan murid. Yang penting jangan sampai GTT gajinya di bawah UMSK," ucapnya.

Oleh sebab itu ke depan ia akan singkronkan dengan bupati dan walikota. Berapa kemampuan APBD nya agar bisa sharing budget.

Penulis: Fatimatuz Zahro
Editor: irwan sy
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved