Berita Surabaya

Mahasiswa Unair Ubah Daun Ashitaba untuk Terapi Penyembuhan Radang Paru

Mahasiswa Fakultas Kedoktean Hewan (FKH) dengan mahasiswa Fakultas Farmasi (FF) Universitas Airlangga melakukan kolaborasi penelitian.

Mahasiswa Unair Ubah Daun Ashitaba untuk Terapi Penyembuhan Radang Paru
surya/sulvi sofiana
Anggota Tim PKM-PE Akhmad Afifudin Al-Anshori (tengah) didampingi dua rekannya dalam meneliti daun ashitaba (Angelica keiskei) sebagai terapi radang baru akibat asap rokok di laboratorium kampus, Sabtu (7/7/2018). 

SURYA.co.id | SURABAYA - Penyakit radang paru merupakan salah satu masalah besar dunia kesehatan.

Penyakit ini menyebabkan tingginya angka kematian, khususnya di Indonesia yang menempati urutan terbesar ke-6 dunia dalam kasus radang paru tahun 2013.

Kemudian menurut hasil Riset Kesehatan Dasar tahun 2013, tercatat lima provinsi di Indonesia dengan insiden radang paru tertinggi untuk semua umur, yaitu Nusa Tenggara Timur, Papua, Sulawesi Tengah, Sulawesi Barat, dan Sulawesi Selatan.

Melihat fenomena ini, mahasiswa Fakultas Kedoktean Hewan (FKH) dengan mahasiswa Fakultas Farmasi (FF) Universitas Airlangga melakukan kolaborasi penelitian.

Mereka yaitu Akhmad Afifudin Al-Anshori (20) dan Indah Tri Lestari (20) mahasiswa FKH angkatan 2016, serta Diah Ayu Retanti (20) mahasiswa FF angkatan 2015.

Mereka berkolaborasi untuk menemukan terapi alternatif penyembuhan radang paru yang disebabkan oleh asap rokok.

Alternatif penyembuhan itu melalui sediaan nano spray inhaler ekstrak daun ashitaba (Angelica keiskei).

Penelitiannya itu mereka tuangkan proposal Program Kreativitas Mahasiswa Bidang Penelitian Eksakta (PKM-PE) berjudul “Pemberian Nano Spray Inhaler Daun Ashitaba (Angelica keiskei) terhadap Kesembuhan Radang Paru Mencit yang Terpapar Asap Rokok”.

“Dipilihnya Ashitaba, karena merupakan salah satu tanaman yang memiliki potensi besar sebagai obat tradisional. Hampir seluruh bagian tanaman ashitaba secara empiris telah digunakan masyarakat sekitar Perkebunan Ashitaba di Desa Ketapanrame, Trawas, Kabupaten Mojokerto untuk obat beberapa penyakit, misalnya diabetes, hipertensi,” jelas Akhmad Afifudin Al-Anshori, ketua tim peneliti ketika dikonfirmasi SURYA.co.id, Sabtu (7/7/2018).

Afif, sapaan akrabnya, menjelaskan, bagian daun ashitaba mengandung flavonoid, triterpenoid, dan tanin yang memiliki aktivitas antioksidan tertinggi dibandingkan dengan bagian lain.

Halaman
12
Penulis: Sulvi Sofiana
Editor: Titis Jati Permata
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved