Bisnis

Asosiasi Gas Industri Indonesia Targetkan Ada Pabrik di Papua dan Nusa Tenggara

Asosiasi Gas Industri Indonesia (AGII) menargetkan adanya pabrik gas untuk industri di kawasan Papua dan Nusa Tenggara.

Asosiasi Gas Industri Indonesia Targetkan Ada Pabrik di Papua dan Nusa Tenggara
surabaya.tribunnews.com/sri handi lestari
Kiri ke Kanan: Jeffrey Gani (PresDir PT Air Liquide Indonesia), Marcus Tan (PresDir PT Linde Indonesia), Arief Harsono (Founder & Chairman Samator Group), Rachmat Harsono (Presdir PT Aneka Gas Industri Tbk), Triwidio Pramono (Presdir PT Air Products Indonesia) dan Ferryawan Utomo (Direktur PT Aneka Gas Industri) saat memberikan keterangan disela Kongres AGII ke X di Surabaya, Kamis (5/7/2018). 

SURYA.co.id | SURABAYA - Produsen gas industri di tahun 2018 ditargetkan menaikkan produksi hingga 5 persen oleh Kementrian Perindustrian. Namun pihak pengusaha memiliki target yang lebih tinggi, mengingat potensi user atau pengguna gas industri yang masih sangat luas. 

"Salah satunya potensi yang ada di wilayah Indonesia Timur. Saat ini, pabrik gas untuk industri masih ada di sekitar 26 provinsi. Masih ada yang belum, terutama di Papua dan Nusa Tenggara," ungkap Arief Harsono, Ketua Asosiasi Gas Industri Indonesia (AGII), disela kegiatan kongres AGII ke X di Surabaya, Kamis (5/7/2018).

Karena itu di tahun ini, AGII yang memiliki anggota sekitar 30 perusahaan pengolahan gas industri, sepakat untuk melakukan investasi pabrik gas industri di kawasan tersebut. Langkah itu perlu diaplikasi, mengingat gas industri masih belum bisa untuk dikirim dalam jarak jauh.

Antara lain dikarenakan kemasan yang masih impor dengan harga tinggi, sehingga kurang efisiens dan angkutan khusus bagi produk gas industri yang tidak bisa sembarangan.

Gas industri ini adalah gas olahan dari jenis kimia yang bisa dimanfaatkan oleh industri seperti rumah sakit, pengawetan makanan, buah-buahan, sayur-sayuran, dan produk makanan serta minuman.

"Karena itu kami sangat tergantung dengan industri terkait itu. Bila industri terkait itu ada di Papua dan Nusa Tenggara, kami tentunya sangat ingin melakukan investasi pabrik disana," lanjut Arief.

Saat ini potensi yang bisa memanfaatkan gas industri di Papua dan Nusa Tenggara yang sudah pasti adalah industri rumah sakit. Misalnya penggunaan oksigen murni terkait pengobatan dan sejenisnya. Selama ini, kebutuhan itu sudah dicukupi melalui distribusi terbatas dengan produk dari Sulawesi Utara atau dari Maluku, yang sudah memiliki pabrik dan jaringan distribusi.

Saat ini, dalam kurun tujuh tahun terakhir, peningkatan produk gas industri Indonesia mampu tumbuh mencapai 300 persen.

Namun jumlah usahanya menurun dari 60 perusahaan yang menjadi anggota AGII, kini hanya 30 perusahaan.
"Kami mencatat mulai tahun 2011-2018 ada peningkatan 300 persen untuk gas Industri, dari kebutuhan semula 900 juta meter kubik kini mencapai 2,4 miliar meter kubik," kata Arief.

Hal itu didorong dengan pertumbuhan ekonomi nasional yang mencapai 5-6 persen setiap tahun yang ikut mendorong kebutuhan gas industri nasional. Arief berharap, ke depan dengan terus tumbuhnya ekonomi nasional kebutuhan gas industri akan semakin naik, dan diperkirakan tahun depan akan meningkat kembali 10 persen.

Sementara dalam kongresnya, AGII menyoroti kurang singkronnya kebijakan pemerintah pusat dan daerah, sehingga menyulitkan invesasi industri gas industri di berbagai daerah.

"Contohnya izin HO (gangguan) yang sudah dihapus oleh pemetintah pusat, tapi masih ada dan diminta diperpanjang oleh beberapa daerah, bahkan kami pernah membayar denda terkait izin tersebut," katanya.

Selain itu, dalam kongres juga disepakati pembuatan standar botol atau kemasan gas industri yang dijual ke konsumen, melalui kerja sama kementerian tenaga kerja dengan mengutamakan unsur keamanan tenaga kerja.

Penulis: Sri Handi Lestari
Editor: Eben Haezer Panca
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help