Citizen Reporter

Ini Rasanya Mendapat Surat Cinta

Dengan kesabaran, pengajar dari sukarelawan menunjukkan setiap detail, tahap demi tahap tulisan serta gambar yang dicontohkan.

Ini Rasanya Mendapat Surat Cinta
ist

Ilmu adalah hak semua anak termasuk anak berkebutuhan khusus atau disabilitas. Inilah bentuk kepedulian segenap sukarelawan. Mereka menjadi pengajar untuk membantu anak-anak memperoleh pendidikan seperti anak pada umunya.

Setiap Sabtu, sukarelawan datang ke Yayasan Penyandang Anak Cacat (YPAC) Malang. Bunulrejo, Blimbing, Kota Malang yang menjadi markas bagi penyandang disabilitas sekaligus tempat para pengabdi mahasiswa untuk mengajarkan banyak hal.

Kegiatan dimulai pukul 15.00 dan berlangsung selama 90 menit. Tidak hanya sukarelawan dari mahasiswa yang bergabung, tetapi orang-orang luar juga boleh menjadi sukarelawan mengajar di YPAC.

Berbeda dengan kondisi di kelas-kelas sekolah umum, pembelajaran di sana membutuhkan satu pengajar untuk setiap anak. Dengan anak berjumlah 12 pada Sabtu (29/5/2018), maka pengajar dari sukarelawan atau pengabdi berjumlah 12 orang.

Kali pertama datang, dengan semangat salah satu anak YPAC membukakan pintu untuk para pengabdi. Sapaan hangat dan saling berjabat tangan menjadi simbol kehormatan bagi pengajar.

Kegiatan awal pembelajaran dibuka dengan pembacaan doa bersama-sama yang dipimpin pengajar. Antusiasme terlihat dari anak-anak yang ditunjukkan dengan mengangkat kedua tangan mereka.

Dengan kesabaran, pengajar dari sukarelawan menunjukkan setiap detail, tahap demi tahap tulisan serta gambar yang dicontohkan. Salah satu pengajar sukarelawan harus berulang-ulang mencontohkan gambar yang diajarkannya kepada salah satu anak YPAC yang hiperaktif. Tidak hanya belajar menggambar, mahasiswa juga menyiapkan beberapa buku untuk anak-anak YPAC.

Kejadian menarik sempat membuat mata basah. Sony, salah satu anak, dengan menggunakan kursi roda malu-malu menunjukkan tulisannya. Isi tulisan itu berisi surat cinta kepada Mery (20), salah satu sukarelawan. Itu mengharukan karena menjadi bentuk kedekatan dengan sukarelawan.

Setelah kegiatan belajar selesai, pengajar membagikan beberapa makanan ringan untuk mereka dan membereskan kertas serta peralatan menulis di atas meja. Kegiatan rutin itu pun ditutup dengan pembacaan doa bersama-sama.

Setelah beberapa kali berinteraksi, anak-anak sudah tidak merasa malu atau takut ketika pengajar datang memberikan pembelajaran. Agenda rutin itu membuat mahasiswa banyak belajar.

Uun Kurniawati Putri
Universitas Muhamadiyah Malang
uunkurniawatiputri98@gmail.com

Editor: Endah Imawati
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help