Jelang Pilpres 2019

Survei PUSPEK soal Pemilih Muslim: Elektabilitas Jokowi Tertinggi, Cak Imin Paling Religius

Pusat Kajian Pembangunan dan Pengelolaan Konflik (PUSPEK) FISIP Universitas Airlangga merilis hasil Survei nasional jelang pemilu 2019.

Survei PUSPEK soal Pemilih Muslim: Elektabilitas Jokowi Tertinggi, Cak Imin Paling Religius
surya/bobby constantine
Direktur Pusat Kajian Pembangunan dan Pengelolaan Konflik (PUSPEK) FISIP Universitas Airlangga, Novri Susan, merilis hasil Survei pemilih muslim jelang pemilu 2019, sela rilis survei lembaganya, Selasa (3/7/2018). 

SURYA.co.id | SURABAYA - Pusat Kajian Pembangunan dan Pengelolaan Konflik (PUSPEK) FISIP Universitas Airlangga merilis hasil Survei nasional jelang pemilu 2019, Selasa (3/7/2018). Secara spesifik, survei ini memotret arah pemilih Islam jelang pemilu 2019.

Berdasarkan hasil survei ini, Presiden Joko Widodo (Jokowi) masih menempati urutan tertinggi apabila kembali dicalonkan sebagai capres pada pemilu mendatang. Jokowi sukses mengungguli beberapa nama lain yang disinyalir juga akan maju.

Dari sisi elektabilitas Jokowi memimpin dengan presentase sebesar 47,9 persen. Sementara pesaing terdekatnya adalah Prabowo Subianto, Ketua Umum Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) yang mengantongi elektabilitas sebesar 30,1 persen.

Bagi pemilih muslim, kedua nama ini dinilai masih cukup kuat untuk mengisi bursa capres. Keduanya jauh mengungguli nama-nama bacapres lain seperti Gatot Nurmantyo (mantan Panglima TNI), Jusuf Kalla (Wapres saat ini), maupun Agus Harimurti Yudhoyono (Kogasma DPP Partai Demokrat.

Sisi elektabilitas Gatot hanya sebesar 3,1 persen, kemudian disusul JK dengan 1,4 persen, dan AHY dengan 1,2 persen.

"Kenyataanya, baik Jokowi maupun Prabowo saat ini ternyata masih menjadi pilihan utama bagi pemilih muslim di Indonesia," kata Direktur Puspek, Novri Susan, di sela rilis survei lembaganya, Selasa (3/7/2018).

Apabila dilihat dari sisi citra kandidat capres, baik Jokowi maupun Prabowo memiliki kesan yang berbeda bagi pemilih muslim. Jokowi dinilai mampu meningkatkan ekonomi (36,4 persen). Sedangkan Prabowo, disebut mampu menjamin stabilitas keamanan (45 persen).

"Berbagai terobosan pembangunan infrastruktur yang dilakukan Jokowi ternyata membuat masyarakat optimis Jokowi bisa melanjutkan peningkatan ekonomi ke depan," kata Novri yang juga pengajar di Unair ini.

Menariknya, apabila dilihat dari citra representasi tokoh Islam, Jokowi maupun Prabowo ternyata bukan yang tertinggi. Ketua Umum Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Abdul Muhaimin Iskandar (Cak Imin) justru menempati posisi teratas sebagai representasi tokoh Islam (18,2 persen).

Menurut Novri, hal ini tak lepas dari kesan PKB yang memang dekat dengan basis pemilih religius.

"Sehingga, Cak Imin yang menjadi tokoh partai menjadi diunggulkan dalam representasi ini," kata Novri.

Meskipun demikian, soliditas pemilih baik Jokowi maupun Prabowo untuk saat ini masih sangat rendah. Dihitung dari persentase jumlah pemilihnya, masih 13,9 persen pemilih Jokowi yang tak akan berganti pilihan di pemilu mendatang.

Sedangkan pemilih Prabowo baru 10,6 persen yang mantab memilih capres yang juga pernah diusung di pemilihan 2014 silam tersebut.

Survei ini menggunakan Multistage Random Sampling dengan jumlah responden sebanyak 1200 orang. Margin of error survei ini sebesar 2,83 persen dengan tingkat kepercayaan sebesar 95 persen.

Responden di ambil dari 29 Provinsi pada periode Survey 12 hingga 26 Juni 2018.

Penulis: Bobby Constantine Koloway
Editor: Parmin
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help