Berita Surabaya

Merajut Kebhinekaan Melalui Kesenian di Paroki Gereja Katolik St. Stefanus Surabaya

'pentas seni lintas iman' dan halal bi halal yang diadakan oleh Paroki Gereja Katolik St. Stefanus, Minggu (1/7/2018).

Merajut Kebhinekaan Melalui Kesenian di Paroki Gereja Katolik St. Stefanus Surabaya
SURYA.co.id/Danendra Kusumawardana
para umat lintas agama saling berjabat tangan sebagai tanda kerukunan, Minggu 

SURYA.co.id | Surabaya - "Menjaga Kerukunan dan kedamaian dalam kehidupan beragama, berbangsa dan bermasyarakat, berdasarkan Pancasila dan Undang-undang dasar 1945," begitulah pernyataan sikap ke tujuh tokoh lintas agama Islam, Katolik, Budha, Kristen, Hindu, Khonghucu, dan penghayat yang di ucapkan secara tegas.

Pernyataan sikap tersebut dilakukan dalam acara merajut kebhinekaan dengan 'pentas seni lintas iman' dan halal bi halal yang diadakan oleh Paroki Gereja Katolik St. Stefanus, Minggu (1/7).

Berbagai kesenian tersaji dalam acara yang diadakan di halaman Gereja Katolik St. Stefanus ini. Kesenian tersebut di persembahkan oleh perwakilan ketujuh agama.

"Dari islam akan mempersembahkan banjiri dan Syiir tanpo waton, dari Hindu Tari Sekar Jagad, Tari Jejer Banyuwangi oleh Penghayat, seni Karawitan oleh Gereja Kristen Jawi Wetan, dan musik akustik dipersembahkan Gereja St. Stefanus," ujar Laurensia widyastuti selaku panitia.

Laurensia mengaku, ide awal pembuatan acara seni lintas agama ini karena melihat kegiatan 'cangkrukan' dan rumah bhineka yang berhasil dibangun oleh gereja dan paroki yang ada di Surabaya.

Laurensia dan pihak Paroki Gereja Katolik St. Stefanus pun mengadakan acaranya yang sama. Rupanya antusias masyarakat lintas agama sangat besar. Terbukti kursi yang sediakan panitia terisi penuh.

"Tamu yang hadir berjumlah 500 orang. Respon dan Kesadaran masyarakat akan kebhinekaan sangat besar. Kami juga akan membuat rumah Bhineka," terang Laurensia.

Di sisi lain, RD. Stanislaus Dadang Ardianto, Romo Gereja Katolik St, Stefanus menjelaskan alasan pemilihan kesenian sebagai media pemersatu karena menganggap bahwa seni tidak memiliki kepentingan.

"Saya yakin dengan seni persatuan dan kesatuan antar umat bisa terwujud," jelas Stanislaus.

Stanislaus berharap agar masyarakat lintas agama lain dapat menggelar acara yang sifatnya mempersatukan. "Semoga acara ini tetap bergulir," harapnya.

Halaman
12
Penulis: Danendra Kusumawardana
Editor: Adrianus Adhi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help