Citizen Reporter

Derajat Wanita Ditinggikan di Taneyan Lanjheng

Bungko asal adalah rumah induk bagi orang tua atau anak perempuan tertua yang sudah berumah tangga. Dialah yang mengurus dan menggantikan orang tua.

Derajat Wanita Ditinggikan di Taneyan Lanjheng
ist

Mendengar kata carok tentu yang terlintas dalam bayangan adalah masyarakat Madura beserta kengeriannya. Namun sebenarnya, budaya carok sudah jauh ditinggalkan oleh masyarakat Madura.
Masih banyak kebudayaan lain dari masyarakat Madura yang menarik dan belum banyak orang ketahui. Salah satunya adalah kebudayaan taneyan lanjheng.

BEM FISIB, Universitas Trunojoyo Madura mengadakan kemah dan talkshow kebudayaan tanean lanjheng dengan tema Kembali ke Rumah Leluhur, 28-29 Juni 2018. Acara diisi tiga pemateri yang berkompetensi di bidangnya yakni Mutmainnah (peneliti/dosen), Raden Panji Abdul Hamid M (budayawan Bangkalan), dan Akhrori (tokoh masyarakat setempat).

Dusun Rokoneng, Desa Kendaban, Tanah Merah, Bangkalan menjadi lokasi tempat diselenggarakannya acara. Itu karena terdapat rumah penduduk yang dianggap masih mempertahankan konsep budaya taneyan lanjheng.

Ketiga pemateri memaparkan taneyan lanjheng yang bukan sekadar rumah tinggal. Mereka menunjukkan bagian-bagian rumah yang wajib ada dan tambahan. Hubungan kekerabatan juga dimunculkan dalam taneyan lanjheng.

Taneyan lanjheng adalah pemukiman masyarakat Madura yang berpola memanjang. Kata taneyan di ambil dari bahasa Madura yang berarti lahan atau halaman. Lanjheng memiliki arti panjang. Istilah itu dipakai di kawasan Madura bagian timur seperti Sumenep dan Pamekasan.

Namun taneyan yang berada di Dusun Rokoneng berupa taneyan kotak. Pola pemukiman warganya berbentuk kotak dengan terdiri atas satu pintu saja.

Dalam pola taneyan lanjheng bangunan terdiri atas taneyan (lahan), balai (rumah sekunder), dapor (dapur), bungko asal (rumah primer/utama), dan langghar (mushala). Letak taneyan berada di tengah.

Bungko asal adalah rumah induk bagi orang tua atau anak perempuan tertua dalam keluarga yang sudah berumah tangga. Dalam masyarakat Madura anak sulung perempuanlah yang nantinya akan mengurus dan menggantikan orang tua mereka.

Bungko asal biasanya menghadap ke arah selatan. Karena penghuninya merupakan bhental pateh atau tumpuan utama. Balai biasanya juga digunakan untuk menampung tamu perempuan apabila dalam bungko asal tidak cukup tempat. Balai biasanya terletak di sebelah timur.

Langghar atau musala selain menjadi simbol kekentalan religius keislaman masyarakat Madura, juga dapat digunakan sebagai tempat untuk menampung tamu laki-laki. Tanyean atau latar sering digunakan untuk menjemur hasil tani, atau sebagai tempat untuk mengadakan hajatan.

Selain beberapa bangun primer itu, dalam taneyan lanjheng juga terdapat bangunan sekunder yang bersifat tidak wajib untuk didirikan seperti labbhang (pintu masuk kediaman), balong (kolam berendam tradisional dan tempat menyuci pakaian), keban (kamar mandi tempat buang air besar), jumleng (tempat buang hajat tanpa atap atau dinding), dan kandhang (kandang hewan ternak).

Taneyan lanjheng dibentuk karena alasan untuk meninggikan derajat dan martabat kaum perempuan di sana. Derajat wanita ditinggikan dengan tanda menjadikan langghar yang tempat sakral sebagai tempat pertemuan antara pria dan wanita, dan anak sulung perempuan yang dijadikan tumpuan utama para keluarga. Selain itu, taneyan lanjheng juga berfungsi untuk merekatkan kekeluargaan dalam masyarakat Madura.

Untuk melestarikan budaya dan mempertahankan nilai moral dalam masyarakat Madura maka berdasarkan SK Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Bangkalan menetapkan taneyan lanjheng di Dusun Rokoneng sebagai desa edukasi budaya pada 29 Juni 2018.

Ade Vika Nanda Yuniwan
Mahasiswa Pendidikan Bahasa Indonesia
Universitas Trunojoyo Madura

Editor: Endah Imawati
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help