Berita Probolinggo

Cukupi Kebutuhan Benih Tembakau, DKPP Kabupaten Probolinggo Lakukan Cara Ini

Menurut Evi, saat ini di Kabupaten Probolinggo terdapat tiga penangkar benih tembakau yang cukup besar.

Cukupi Kebutuhan Benih Tembakau, DKPP Kabupaten Probolinggo Lakukan Cara Ini
surya/galih lintartika
Salah satu lahan benih tembakau di Probolinggo. 

SURYA.co.id | PROBOLINGGO - Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kabupaten Probolinggo memiliki cara tersendiri untuk mencukupi kebutuhan benih tembakau di Probolinggo. Kebutuhan benih tembakau ini sangat menentukan hasil panen tembakau pada akhirnya nanti.

Sekadar diketahui, rencana areal tanam tembakau musim tanam (MT) tahun 2018 ini seluas 10.774 hektar.

Dengan asumsi rencana produksi sebesar 12.929 ton dan asumsi produktivitas 1,2 ton/Ha. Luasan lahan tersebut membutuhkan sekitar 215.480.000 benih, di mana perkiraan kebutuhan per hektar sekitar 20 ribu benih dengan jarak tanam 100 cm x 50 cm.

Kepala DKPP Kabupaten Probolinggo, Ahmad Hasyim Ashari, melalui Kasi Tanaman Perkebunan Semusim, Evi Rosellawati, menjelaskan dari rencana areal tanam tembakau tersebut, tentunya harus disediakan benih tembakau yang berkualitas dari penangkar maupun petani sendiri.

"Maka dari itu, upaya yang kami lakukan ini terys intens memonitoring ketersediaan benih tembakau di penangkar selaku produsen benih tembakau yang berkualitas ataupun petani,” katanya kepada Surya, Senin (2/6/2018) pagi.

Menurut Evi, saat ini di Kabupaten Probolinggo terdapat tiga penangkar benih tembakau yang cukup besar.

Mereka adalah, Rachmad Yogi Samantha dari Kelompok Tani Cempiring Desa Karanganyar Kecamatan Paiton, Kelompok Tani Barokah IV Desa Bucor Kulon Kecamatan Pakuniran, dan Hari Susanto dari Desa Bucor Kulon Kecamatan Pakuniran.

"Kualitas benih dari para penangkar ini tak perlu diragukan lagi. Kami optimistis benihnya sangat baik dan panen tembakau di Probinggo akan bagus lagi," terangnya.

Selain itu, kata dia, petani-petani tembakau di sini juga sebagian sudah melakukan pembenihan secara mandiri, baik untuk varietas Paiton VO maupun Jawa. Harapannya, agar kebutuhan benih tembakau di sini bisa terpenuhi dengan baik melalui penangkar maupun kelompok tani.

Menurut Evi, selama ini pihaknya secara rutin sudah melakukan pembinaan kepada para penangkar benih maupun kelompok tani baik melalui anggaran Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBHCHT) dan swadaya.

“Benih yang terjamin kualitasnya biasanya diperoleh dari penangkar benih karena sudah disertifikasi. Hanya saja setiap penangkar hanya mampu menghasilkan benih sekitar 1 hingga 2 juta saja. Sisanya dilakukan oleh petani sendiri, tetapi bijinya dari penangkar yang sudah bersertifikat,” jelasnya.

Evi mengharapkan dari rencana areal tanam seluas 10.774 hektar ini bisa terealisasi secara maksimal sesuai dengan kebutuhan gudang.

Harapannya, hasil panen tembakau bisa aman dan terbeli semua oleh pihak gudang dengan harga yang tinggi.

“Sebagai gambaran bahwa pada tahun 2017 lalu, dari rencana areal tanam seluas 10.774 hektar, realisasinya mencapai 7.609 hektar. Tetapi itu tidak penting asalkan tidak ada gejolak dan hasil panen tembakau bisa terbeli semua oleh pihak gudang. Harapan akhirnya tentu kesejahteraan petani bisa meningkat,” pungkasnya.

Penulis: Galih Lintartika
Editor: irwan sy
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved