WAPO Targetkan Penjualan Rumput Laut Kering Naik 20 Persen di Tahun 2018

PT Wahana Pronatura Tbk atau WAPO membidik pertumbuhan penjualan rumput laut kering hingga 20 persen di tahun ini.

WAPO Targetkan Penjualan Rumput Laut Kering Naik 20 Persen di Tahun 2018
surabaya.tribunnews.com/sri handi lestari
(Dari kiri-kanan) Corporate Secretary WAPO, Iwan Setiawan bersama Dirut WAPO, Samin dan Direktur WAPO, Indra Wahyudharma saat public expose usai menggelar RUPS di Surabaya, Kamis (28/6/2018). 

SURYA.co.id | SURABAYA - Pasar ekspor produk rumput laut kering Indonesia masih cukup besar. Kebutuhan industri lokal dengan hasil produksi secara nasional masih belum seimbang. 

"Tercatat produksi rumput laut kering di Indonesia mencapai 1 juta ton di tahun 2017. Sementara kebutuhan industri lokal hanya 200.000 ton. Pasar ekspor masih tertinggi," jelas Samin, Direktur Utama PT Wahana Pronatura Tbk, perseroan yang bergerak di bidang perdagangan dan industri di sektor bahan baku rumput laut kering, usai Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) di Surabaya, Kamis (28/6/2018).

Karena itu, di tahun 2018 ini, langkah bisnis perseroan yang melantai dengan kode WAPO ini masih akan meneruskan prospek di produk rumput laut kering. Dengan pasar ekspor ke Tiongkok, Filipina, Malaysia, Chile dan negara Asia lainnya.

Prospek olahan rumput laut kering baik di industri lokal maupun ekspor bahan baku untuk industri di negara-negara tujuan, dibutuhkan sebagai bahan pengenyal, pengemulsi, pengental, dan penjernih untuk bahan pencampur alami juga untuk pupuk. Selain itu dapat dimanfaatkan sebagai bahan makanan, juga untuk industri farmasi serta obat dan kosmetik.

"Kami di tahun 2018 ini mentargetkan penjualan produk rumput laut kering naik 20 persen. Di tahun 2017 lalu sudah naik 137 persen," jelas Samin.

Kenaikan yang tinggi untuk produk rumput laut kering di tahun 2017 tercatat mencapai Rp 90 miliar. Hal itu karena fluktuasi harga di kisaran Rp 12.000 per kg hingga Rp 20.000 per kg.

Kontribusi penjualan rumput laut kering bagi WAPO mencapai 67,3 persen. Jumlah itu paling besar, dibanding usaha lain dari WAPO, yaitu candy dan dreamy serta gula konsumsi.

Untuk candy dan dreamy, di tahun 2018 ini, pihaknya juga mentargetkan peningkatan yang sama dengan produk rumput laut kering. Iwan Setiawan, Corporate Secretary WAPO, menambahkan target peningkatan di penjualan produk ini adalah 20 persen.

"Untuk produk ini kami siapkan produk dengan inovasi-inovasi baru dengan segmen konsumen remaja dan anak-anak. Produk andalan saat ini adalah permen white coffe," jelas Iwan.

Tercatat penjualan dari produk candy dan dreamy di tahun 2017 mencapai Rp 69,73 miliar dengan kontribusi ke perusahaan mencapai 30,1 persen.

Sementara untuk produk gula konsumsi yang penjualannya memberi kontribusi perseroan sebesar 2,6 persen di tahun 2017, di tahun ini akan memaksimalkan dengan menjual produk gula konsumsi kemasan 1 kg.

"Sebelumnya kami sudah lakukan untuk gula konsumsi kemasan 50 kg. Targetnya tahun ini kami akan jualan untuk kemasan 1 kg," ungkap Iwan.

Untuk bermain di pasar gula konsumsi, pihaknya telah menyiapkan langkah koordinasi dengan perusahaan distribusi gula kemasan dan pabrikan, seperti BUMN PT Perkebunan Nusantara (PTPN) X, PTPN XI dan siap untuk menggandeng pabrik gula di Lampung.

Penulis: Sri Handi Lestari
Editor: Eben Haezer Panca
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help