Sambang Kampung Gunungsari Kec Wonokromo

Warga Bangun Sarana Umum dari Hasil Lomba

Sejak 2010 mereka mulai merintis aturan untuk pedulli lingkungan dengan menanam tanaman dalam pot dan membuang sampah pada tempatnya.

Warga Bangun Sarana Umum dari Hasil Lomba
surya/ahmad zaimul haq
ASRI - Suasana kampung di RT 2 RW 1 Kelurahan Gunungsari Kecamatan Wonokromo yang hijau dan asri. 

SURYA.co.id | SURABAYA – Berawal dari ingin mengubah kondisi kmpung agar lebih sehat, warga kampung di RT 2 RW 1 Kelurahan Gunungsari Kecamatan Wonokromo termotivasi untuk memenangkan lomba lingkungan.

Sejak 2010 mereka mulai merintis aturan untuk pedulli lingkungan dengan menanam tanaman dalam pot dan membuang sampah pada tempatnya. Hingga berkembang pada pemilahan sampah dan pembentukan bank sampah.

Putut Rumtyono, ketua RT mengungkapkan warganya yang terdiri dari 100 KK awalnya sangat sulit untuk diajak peduli pada lingkungan. Kesibukan kerja dan perbedaan pola pikir menjadi kendala utama berjalannya kesadaran warga.

“Susah sekali di tahun pertama, makanya kami butuh tiga tahun untuk bisa juara untuk lomba lingkungan,” urai pria yang juga petugas pintu air Jagir ini.

Setelah warga tertib menanam tanaman di depan rumah dan menjaga kebersihan. Aneka inovasi kegiatan dilakukan dengan memanfaatkan barang-barang bekas untuk mempercantik lingkungan. Seperti membuat taman gantung dari botol bekas.

“Kami menang ada sampai empat kali, setiap dapat hadiah uang tunai kami kumpulkan. Karena kalau dibagikan sekampung juga nggak seberapa,” urainya.

Uang tersebut kemudian secara bertahap dibuat membangun berbagai fasilitas umum warga. Mulai dari taman lengkap dengan air mancur dan papan program kampung. Hingga tempat berkumpul warga untuk rapat atau sekedar nonton bola bersama.

“Secara bertahap kamibangun tanpa bantuan pihak luar, satu persatu kami tambah fasilitasnya. Jadi kami bisa kumpul-kumpul di tempat ini,”ungkapnya menunjukkan tempat santai layaknya gapura di pojok gang Kencur.

Selain itu, data yang ada juga digunakan untuk membeli aneka peralatan musik drum band. Sehingga ibu-ibu kader bisa tampil setiap pameran atau undangan tanpa harus meminjam atau menyewa alat.

Kurdi (56), warga kampungmengungkpkan saat ini kondisi lingkungannya cukup asri dan guyub. Pasalnya banyak warga yang akhirnya sering berkumpul setelah di bangunnya tempat bersama tersebut.

“Dulu orangnya sibuk semua jarang kumpul dan jalanannya kotor. Sekarangs emua lebih tertata,” urai pria yag tinggal di kawasan tersebut sejak 1978.

Menurutnya, karena rasa memiliki warga atas fasilitas umum yag dibangun dari hadiah lomba, warga akan membersihkan fasilits umum tanpa perlu dilakukan piket.

Penulis: Sulvi Sofiana
Editor: Parmin
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved