Citizen Reporter

Ini Hari Raya Kedua di Madura

Sepekan setelah Idul Fitri, masih ada kegembiraan lagi, yaitu Tellasan Topak. Itu waktunya makan ketupat di Madura.

Ini Hari Raya Kedua di Madura

Di Madura, terdapat dua hari raya atau saat Syawal. Yang pertama Idul Fitri pada 1 Syawal dan hari raya ketupat yang disebut Tellasan Topak. Tellasan Topak berlangsung pada hari ke-7 setelah Idul Fitri.

Sesuai namanya, TellasanTopak identik dengan ketupat. Masyarakat di Pulau Madura akan mengonsumsi ketupat pada hari itu.

Ketupat biasanya dibuat sendiri, namun sebagian besar warga membelinya dari pedagang musiman. Pedagang ketupat musiman itu biasanya menjual ketupat menjelang Tellasan Topak.

Wesna (60) merupakan warga Dusun Poter Barat, Kecamatan Tanah Merah, Kabupaten Bangkalan, Selasa (19/6/2018). Ia salah satu penjual ketupat musiman itu. Ia sudah menjadi penjual ketupat musiman sejak kecil, mengikuti ibunya.

Wesna biasanya menjual ketupat kosongan tanpa beras di beberapa pasar, seperti Pasar Patemon, Pasar Bangkalan, atau PasarTambin. Biasanya, ia akan berangkat ke pasar bersama teman-temannya sesama penjual ketupat musiman di waktu subuh. Mereka akan pulang tengah hari.

Bahan dasar pembuatan ketupat adalah janur muda.Wesna biasanya memperoleh janur itu dari pedagang janur musiman di Pasar Patemon. Darinya, ia akan membeli seribu janur yang dibanderol dengan Rp 160 ribu.

Menurut Wesna, dalam sehari, ia mampu membuat sekitar 500 selongsong ketupat dengan dibantu anak-anaknya. Ketupat yang biasanya ia jual adalah ketupat biasa/topak sambung dan ketupat duduk/topak tojuk.

Harganya berkisar Rp 500-Rp 1.000. Biasanya, Wesna menjualnya per kuntum, yang masing-masing berjumlah sepuluh ketupat. Pembeli tidak lagi perlu tawar-menawar.

Uniknya, dalam setahun, Wesna dan teman-temannya hanya berkesempatan menjadi penjual ketupat selama dua hari, yaitu pada hari ke-5 dan ke-6 Syawal. Itu karena daya tahan janur yang tidak lama, sehingga pembeli hanya akan membeli ketupat pada hari menjelang Tellasan Topak.

Wesna mengaku mendapatkan untung besar. Selain karena modalnya sedikit, budaya orang Madura yang selalu mengonsumsi ketupat pada Tellasan Topak membuatnya dan teman-temannya selalu kehabisan barang dagangan.

“Untungnya banyak. Lumayan bisa nambah penghasilan,” ujarnya.

Siti Halwah
Mahasiswa Pendidikan Bahasa Indonesia
Universitas Trunojoyo Madura
sitihalwah@gmail.com

Editor: Endah Imawati
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help