Viral Media Sosial

Ini di Indonesia, Dokter Amalia Usmaianti Harus Berjalan Kaki 16 KM Demi Obati Pasien

Kisah Dokter Amalia Usmaianti ini akan menguras air mata keprihatinan. Kondisi sedemikian buruk masih dialami warga Papua.

Ini di Indonesia, Dokter Amalia Usmaianti Harus Berjalan Kaki 16 KM Demi Obati Pasien
FACEBOOK
Amalia Usmaianti dan timnya menggotong rekannya, seorang bidan, yang sakit memakai tandu bambu dan sarung. 

Amalia berharap, unggahannya dapat diketahui oleh dunia luar dan tempatnya mengabdi mendapat perhatian, khususnya dari pemerintah.

“Saya rasa kami hanyalah perantara, agar desa tersebut dapat dilihat oleh dunia luar. Bahwa masih ada tempat yang ditinggali masyarakat Indonesia yang jauh dari kita, jauh dari alat komunikasi, yang belum ada listrik, sinyal radio dan sebagainya,” tulis dokter asal Aceh itu.

Amalia  Usmaianti, dokter muda yang melayani kesehatan masyarakat pedalaman Papua berpose dengan anak-anak setempat.
Amalia Usmaianti, dokter muda yang melayani kesehatan masyarakat pedalaman Papua berpose dengan anak-anak setempat. (Dok. Pribadi/Amalia Usmaianti)

Amalia menjelaskan banyak hal terkait kondisi pedalaman Papua, tempatnya mengabdi.

Sebelum adanya Tim Nusantara Sehat pada 2015, banyak warga di Distrik Ninati lebih memilih berobat ke Papua Nugini karena terbatasnya layanan kesehatan di tempat mereka tinggal.

“Sebelum kami menetap itu, hanya ada puskesmas pembantu yang dikunjungi sebulan sekali dari puskesmas distrik lain yang terdekat.

Dan jarak (masyarakat) ke puskesmas dengan ke Papua Nugini lebih dekat ke Papua Nugini, lewat hutan-hutan begitu,” kata perempuan kelahiran Medan, 15 Mei 1990 ini.

Saat ini, puskesmas tempat Amalia bertugas hanya memiliki 3 staf, yakni kepala puskesmas, bidan, dan perawat.

“Tapi (mereka) jarang di tempat, karena kami (Tim Nusantara Sehat) stay di tempat,” ujar dia.

Dokter Amalia, seorang dokter muda, yang tengah bertugas di pedalaman Boven Digoel, Papua.
Dokter Amalia, seorang dokter muda, yang tengah bertugas di pedalaman Boven Digoel, Papua. (Facebook)

Ia mengungkapkan, masyarakat di pedalaman tidak memiliki akses untuk berkomunikasi dengan dunia luar karena terbatasnya piranti dan jaringan komunikasi yang memadai.

“Untuk jaringan, tergantung cuaca. Kalau hujan ada petir, hilang sinyal, kami naik-naik pohon buat cari sinyal,” kata Amalia.

Halaman
1234
Editor: Tri Mulyono
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help