Citizen Reporter

Pahami Dulu Aksara Jawa Kuno

Prasasti tertua di Indonesia yang menggunakan aksara Jawa Kuno (Kawi) adalah Prasasti Dinoyo yang ditemukan di Karangbesuki, Malang.

Pahami Dulu Aksara Jawa Kuno
surya/rorry nurmawati
Sejumlah pengunjung memadati area cagar budaya Candi Brahu di Dukuh Jambu Mente, Desa Bejijong, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto, Rabu (28/6/2017). 

Bahasa Jawa Kawi memiliki keunikan tersendiri, terutama sebelum mendapat pengaruh dari Mataram. Bahasa Jawa Kawi berbeda dengan aksara Jawa yang selama ini diajarkan dalam pelajaran Bahasa Daerah.

Bahasa Jawa Kuno (Kawi) berasal dari abad ke-8 Masehi. Itu lebih kuno dibandingkan dengan aksara Jawa baru/hanacaraka yang digunakan pada abad ke-16 Masehi.

Belajar Aksara dan Bahasa Jawa Kuno (Kawi) diselenggarakan Komunitas Jawa Kuno di Perpustakaan Umum Kota Malang, Sabtu (2/6/2018). Acara ini diselenggarakan sambil menunggu buka puasa karena saat itulah banyak orang memiliki waktu senggang.

Aang Pambudi Nugroho, didapuk sebagai pemateri utama yang memaparkan pentingnya belajar aksara Jawa Kuno. Selain untuk mengenal jati diri bangsa, mempelajari aksara Jawa Kuno juga berguna untuk memupuk rasa cinta kepada kearifan lokal.

“Setiap prasasti berbahasa Jawa Kuno sebenarnya memiliki pesan atau isi yang beragam, terutama tentang kehidupan dan teknologi pada masa Indonesia kuno,” katanya.

Ia menunjukkan; Prasasti Sangguran yang ditemukan di Batu, berisi tentang pemberian tanah sima/perdikan/tanah bebas pajak kepada para pandai besi di Desa Junrejo. Para pandai besi itu bertugas membuat peralatan perang untuk alutista kerajaan Mataram kuno.

Prasasti tertua di Indonesia yang menggunakan aksara Jawa Kuno (Kawi) adalah Prasasti Dinoyo yang ditemukan di Karangbesuki, Malang. Prasasti peninggalan Kerajaan Kanjuruhan itu memiliki makna penting bagi masyarakat Malang.

Akan tetapi, prasasti ini masih menggunakan bahasa Sansekerta. Aang menjelaskan, dia tertarik belajar prasasti dan aksara kuno sejak terlibat berbagai penelitian di Yogyakarta dan Trowulan.

Alumnus Jurusan Sejarah Universitas Negeri Malang itu juga prihatin dengan vandalisme yang marak terjadi di candi-candi, terutama Candi Badut. Oleh karena itu, dia rutin mengadakan diskusi dan workshop menulis aksara Jawa secara sukarela agar bisa meningkatkan kesadaran masyarakat untuk mencintai peninggalan sejarah.

Enam belas peserta yang mengikuti acara ini tampak antusias mencatat dan berdiskusi dengan Aang. Mahasiswa dan dosen yang menjadi peserta dari berbagai latar belakang mulai dari ekonomi, perikanan, teknik, sastra Inggris, sampai geografi. Hal itu menunjukkan, peminat kearifan lokal sebenarnya banyak asal mendapat informasi dan wadah yang tepat.

Pemateri mengenalkan aksara Jawa Kuno secara lengkap mulai dari huruf, konsonan, sampai tanda baca. Setiap peserta diberi salinan tiga lempeng Prasasti Kakurugan yang disadur ke dalam kertas agar lebih mudah dipelajari. Aang membimbing para peserta agar mampu memahami teknik dasar membaca prasasti/tulisan Jawa Kuno dengan baik dan benar.

Moch Nurfahrul Lukmanul Khakim
Dosen Jurusan Sejarah
Universitas Negeri Malang

Editor: Endah Imawati
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help