Ramadan 1439 H

Group Spiritual Indonesia Buka Bersama di Pujasera Lambe Toerah

Puluhan pengunjung mengenakan busana berwarna gelap terlihat berkumpul di Pujasera Lambe Toerah, Minggu (10/6/2018).

Group Spiritual Indonesia Buka Bersama di Pujasera Lambe Toerah
surya/danendra kusumawardana
35 Anggota Spiritual Indonesia menggelar acara buka bersama dan silahturahmi di Pujasera Lambe Toerah, Minggu (10/6/2018). 

SURYA.co.id | SURABAYA  - Puluhan pengunjung mengenakan busana berwarna gelap terlihat berkumpul di Pujasera Lambe Toerah, Minggu (10/6/2018). Mereka membuka pertemuan tersebut dengan obralan riuh. Selain itu, terdengar suara langgam jawa nan merdu bersahutan tersisip pada obralan mereka.

Rupanya puluhan pengunjung tersebut tergabung dalam Group Spiritual Indonesia yang mengadakan buka bersama dan silahturahmi.

"Inilah cara kami melestarikan budaya. Kita harus selalu mengingatnya melalui hal-hal kecil seperti ini,” tegas Mutachir, Komandan Satgas Forum Keluarga Paranormal Penyembuh Alternatif Indonesia.

Mutachir mengatakan, untuk melestarikan budaya, ia tak segan untuk menegur anak muda yang tak hafal bacaan Pancasila atau lagu-lagu nasional macam Indonesia Raya dan Garuda Pancasila. Menurutnya, penyebab masalah yang timbul pada anak muda yang acuh terhadap budaya asli Indonesia karena orangtua yang khilaf lantaran terbuai kesibukan mencari material sehingga melupakan pembekalan sisi pentingnya pemahaman budaya tradisional pada anak-anaknya.

''Kalau banyak anak jaman now tidak paham budaya tradisional dan lebih memuja budaya luar, itu bisa jadi karena kita-kita ini terlalu sibuk cari nafkah sehingga terpelanting. Kami ini yang lengah oleh teknologi juga,” terangnya.

Mutachir mengimbuhkan, gaya hidup yang lebih mengagungkan budaya luar ini harus segera diluruskan. Sebab, budaya ini pula yang ia yakini bisa meredam gejolak radikalisme yang belakangan banyak meresahkan masyarakat Tanah Air.
“Pembenahan itu harus dari lingkungan sekitar dulu sebelum ke lingkungan yang lebih luas,” imbuhnya.

Sementara itu Roy Jati selaku Ketua Spiritual Indonesia (SI) Jatim mengakui bahwa budaya itu sebagai pengolah rasa sehingga bisa membuat seseorang punya jiwa luhur.

“Lihat saja orangtua kita dulu. Mereka mengagungkan seni adiluhung ini, dan hasilnya pun dirasakan masyarakat dulu punya perilaku tepa seliro (saling menghargai) dan etika yang lebih santun,” tuturnya.

Karena itu, Roy melanjutkan, dalam setiap pertemuan SI Jatim sesama anggota saling mengingatkan agar selalu menjaga budaya tradisional pada lingkungannya. Saat ini anggota SI berjumlah 8600 orang .

“Realisasinya adalah kami buka sanggar-sanggar latihan tari di tiap daerah. Kami juga dukung aksi kesenian dalam bentuk apa pun agar kecintaan pada budaya Nusantara ini tetap terjaga,” tandas pria yang mengenakan udeng.

Penulis: Danendra Kusumawardana
Editor: Parmin
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved