Ramadan 1439 H

Perajin Lampion untuk Takbir Keliling di Jombang Kebanjiran Order, Lampion Karakater Banyak Disuka

Malam lebasran atau Idul Fitri biasanya ramai diwarnai pawai atau takbir keliling.

Perajin Lampion untuk Takbir Keliling di Jombang Kebanjiran Order, Lampion Karakater Banyak Disuka
surya/sutono
Salah satu perajin lampion lebaran di Dusun Plosokendal, desa Plosogeneng, Kecamatan Jombang Kota sedang menyelesaikan hasil karyanya. 

Surya.co.id, JOMBANG - Malam lebasran atau Idul Fitri biasanya ramai diwarnai pawai atau takbir keliling. Karenanya, jelang lebaran, lampion dengan berbagai jenis dan bentuknya, sebagai salah satu pernak-pernik untuk takbir keliling pun laris manis

Amanulloh (35), salah seorang perajin lampion warga Dusun Ploskendal, Desa Plosogeneng, Kecamatan Jombang Kota, mengaku omset pembuatan lampion dua pekan terakhir ini meningkat.

Jika pada hari-hari biasa hanya menjual puluhan lampion, kini pria yang akrab disapa Cak Aman ini kewalahan melayani pembeli. Bahkan saat ini sedang mengerjakan orderan 100 buah lampion.

"Untuk lampion jenis bintang ini, hari ini sudah keluar 500 biji. Dan yang lampion karakter yang hari ini lagi ngetren sudah terjual 450 buah," ungkap Cak Aman Minggu (10/6/2018).

Untuk menyelesaikan lampion, Cak Aman mengaku membutuhkan waktu cukup lama. Rinciannya, untuk membuat bangunan lampion karakter saja membutuhkan waktu sekitar 10 menit.

Kemudian, baru dijemur yang membutuhkan waktu satu hari, karena untuk mengeringkan lem perekat pada lampion. Untuk penjemuran dilakukan bersama-sama dalam jumlah besar.

"Yang rumit sebenarnya adalah saat membentuk karakter. Karena menggunakan benang jahit yang dibalutkan untuk membentuk lingkaran seperti bentuk bola senagai dasar dari bentuk lampion karakter," ujarnya.

Sedangkan harga untuk satu lampion bintang dengan bahan kertas, Cak Aman mematok harga Rp 12.000 per buah. Kemudian untuk yang berbahan mika dipatok dengan harga Rp 15.000 per buah.

Untuk lampion dengan model karakter animasi, Cak Aman mematok harga khusus yang lebih mahal. Yakni Rp 25.000 per buah.

"Yang jenis karakter ini agak mahal karena pembuatannya manual dan lebih rumit," tandasnya.

Cak Aman mengaku sudah menggeluti usaha kerajinan lampion sejak 2004 lalu. Bermula dari budaya malam takbir keliling di setiap malam Idul Fitri.

Dari budaya takbir keliling biasa menggunakan obor dari bahan bambu untuk penerangan.

Dari situ Cak Aman memutar otak, dan kemudian muncullah gagasan membuat lampion sebagai pernak-pernik di malam takbir.

Karena hasilnya lumayan bisa meningkatkan taraf hidupnya, kini banyak warga Desa Plosogeneng mengiktui jejak Cak Anam dengan menggeluti kerajinan lampion ini.

Penulis: Sutono
Editor: Parmin
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved