Berita Magetan

Warga Magetan Tolak Bingkisan Kompensasi Limbah LIK

"Kami hanya ingin lingkungan kami sehat, tidak tercemari limbah dari Lingkungan Industri Kulit dan tidak ada maksud mengganggu usaha kulit"

Warga Magetan Tolak Bingkisan Kompensasi Limbah LIK
SURYAOnline/Doni Prasetyo
Warga Kelurahan/ Kecamatan/ Kabupaten Magetan yang terdampak langsung limbah dari Lingkungan Industri Kulit (LIK) Magetan, pasang spanduk di sejunlah titik jalan protokol, menolak bingkisan dan pemberian lain terkait pencenaran lingkungan akibat limbah LIK yang mengganggu kesehatan warga setempat. 

SURYA.co.id | MAGETAN - Setelah pengaduannya tidak mendaoat tanggapan dari Pemerintah Kabupaten (Pemkab) dan aparat setempat, warga di Kelurahan Magetan, pasang spanduk disejumlah titik jalan protokol, menolak pemberian bingkisan sebagai kompensasi limbah dari Lingkungan Industri Kulit (LIK) yang dikelola Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Provinsi Jawa Timur (Jatim).

"Kami hanya ingin lingkungan kami sehat, tidak tercemari limbah dari Lingkungan Industri Kulit (LIK) dan tidak ada maksud mengganggu usaha kulit," kata Gading Ketua RT2/ RW3 Kelurahan/Kecamatan/Kabupaten Magetan kepada Surya, Sabtu (9/6-2018).

Polusi udara, lanjut Gading yang dialami warga di sekitar LIK Disperindag Provinsi Jatim ini sudah rasakan warga puluhan tahun, setiap laporan kepada Pemkab dan aparat tidak pernah mendapat tanggap, dan terus terusan hampir setiap hari warga dipaksa menghirup udara beraroma bangkai.

"Kita lapor atau protes limbah kemarin bukannya ada perubahan, tapi malah seperti menggoda dan memancing kemarahan warga. Setiap malam waktu saur dan berbuka puasa, limbah itu seperti digelontorkan keluar, bau bangkai yang luar biasa busuk, menyebar. Warga disini banyak yang muntah muntah dan sesak nafas," kata Gading.

Disperindag Provinsi Jatim yang mengelola LIK bukan tidak tahu limbahnya mencemari lingkungan warga Magetan dan mengakibatkan gangguan kesehatan, karena itu untuk meredam gejolak warga setempat, setiap menjelang hari Raya Idul Fitri, LIK membagi bagikan bingkisan kepada warga sekitar.

"Bingkisan gula 1 plastik, roti 1 kaleng dan kecap, apa sepadan dengan akibat yang ditimbulkan dari limbah yang dibuang di Sungai Gandong. Apa mereka mikir kerusakan lingkungan dan warga yang terkena sesak nafas. Karena itu, tahun ini kami tidak sudi lagi terima bingkisan atau lainnya, ini sudah kesepakatan warga ," kata Suparlan warga RT2/RW3 Kelurahan Magetan kepada Surya.co.id.

Dikatakan Suparlan, selain bingkisan gula dan roti, LIK Disperindag Provinsi Jatim juga menawarkan dana untuk Kas RT sebesar Rp 2 juta per RT/tahun, namun warga tetap sepakat menolak.

"Kami sudah sepakat menolak, kami hanya ingin lingkungan kami bersih. Kami juga punya hak hidup sehat,"ujar Suparlan.

Mendapati bingkisannya ditolak warga, LIK Disperindag Jatim berusaha memberikan bingkisan roti dan gula secara diam diam dengan ditinggalkan diteras teras warga. Mengetahui ini warga mengumpulkan bingkisan itu dirumah Ketua RT, dikembalikan ke LIK Disperindag Jatim.

"Sebelum protes limbah semakin keras, dulu waktu memberikan bingkisan roti dan gula, warga yang menerima diminta menulis nama dan tandatangan. Tapi setelah penolakan ini, bingkisan ditinggal di teras teras rumah warga. Tapi karena sudah sepakat, kami kembalikan bingkisan itu," kata Suparlan.

Limbah LIK yang puluhan tahun dikeluhkan warga ini sudah puluhan kali juga sudah dilaporkan warga setempat ke Bupati langsung dan Polres setempat. Namun sampai saat hari ini seperti belum ada tanggapan berarti. Sepertinya dibelakang LIK ada kekuatan yang membuat Pemkab dan aparat di Magetan tidak berkutik dan terkesan memilih mendiamkan pencemaran yang dikeluhkan warganya itu.

Penulis: Doni Prasetyo
Editor: Cak Sur
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help