Citizen Reporter

Ini Sapaan Sayang di Thailand

KKN dan PPL berlangsung di daerah Na Thawi Districtt, Provinsi Songkhla, Thailand Selatan. Saat puasa, ini yang ditunggu.

Ini Sapaan Sayang di Thailand
pixabay.com

Ramadan tahun ini menjadi pengalaman baru karena berpuasa di Songkla, Thailand. Bersama beberapa mahasiswa dari Universitas Negeri Malang, puasa dilakukan bersama keluarga yang menjadi orang tua angkat selama masa KKN dan PPL di sana.

KKN dan PPL berlangsung di daerah Na Thawi Districtt, Provinsi Songkhla, Thailand Selatan, dimulailah pengalaman baru yang berbeda dan amat mengesankan. Beberapa kegiatan yang berbeda dari Indonesia, di antaranya dalam hal pendidikan dan budaya.

Kegiatan belajar mengajar yang dilaksanakan di Miftahuddeen School berlangsung seperti biasa. Tidak ada libur awal puasa seperti di indonesia, hanya ada dispensasi 5 menit setiap jam pelajaran. Yang awal mulanya 45 menit, menjadi 40 menit saja.

Mayoritas penduduk di area Na Thawi District ini Buddha. Meskipun begitu, tidak mengurangi rasa kekeluargaan umat muslim yang tinggal di Na Thawi District.

Masjid Banpleetai adalah masjid besar yang ada di Na Thawi District. Sore menjelang buka puasa, seperti yang dilaksanakan sebagian besar umat muslim di Indonesia, para warga muslim di Na Thawi District ini juga mengadakan buka puasa bersama di masjid.

Beberapa takmir masjid dan sesepuh biasanya aktif dalam kegiatan masjid. Empat mahasiswa putri dianjurkan hadir untuk mengikuti buka bersama di sana.

Yang melegakan, semua menyambut gembira dan menyayangi. Mereka sudah bagaikan orang tua kedua. Meskipun mahasiswa belum mahir berbicara bahasa Thailand, namun semua berusaha memahami apa yang dibicarakan melalui gerak tubuh mereka. Semua mahasiswa membantu persiapan buka puasa hingga selesai.

Ternyata, hidangan yang disuguhkan di masjid adalah kiriman dari warga muslim sekitar masjid. Warga muslim yang mengirimkan makanan biasanya memakai kantung plastik atau kotak makan.

Nah, di masjid sudah tersedia banyak mangkuk, sendok, piring, dan gelas. Semua membantu menyiapkan hidangan dan menatanya di piring dan mangkuk. Setelah selesai buka bersama, empat mahasiswa segera mencuci seperangkat alat makan yang telah digunakan. Setelah itu, inilah yang paling ditunggu.

“Bawa saja nasi dan lauk. Itu bisa untuk makan sahur nanti,” begitu kata mereka.

Ah, itu ungkapan sayang yang paling menyejukkan karena saat sahur, sudah ada nasi dan lauk. Bukan hanya sehari, kebiasaan itu terus berlangsung hingga Ramadan berakhir.

Aulia Nadia Sari
Mahasiswa Universitas Negeri Malang yang sedang PPL dan KKN di Thailand

Editor: Endah Imawati
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help