citizen reporter

19 Jam Berpuasa di Eropa

Mahasiswa Indonesia yang berpuasa di Eropa ini setiap menit menjawab pertanyaan teman-temannya tentang kondisinya selama berpuasa.

19 Jam Berpuasa di Eropa
ist

Naiknya suhu udara di Poznan menandakan musim panas akan segera tiba. Di tengah kesibukan untuk mengatur waktu istirahatnya, Tata Budhi Prasetyo mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) berbagi kisahnya menjalani puasa di salah satu negara bagian terbesar di Polandia.

Dalam suasana perbedaan waktu hampir lima jam, Tata sangat bersemangat membagi kisah hari ke-13 puasanya di negara rantauannya itu.

“Alhamdulillah dengan banyak halangan dan rintangan bisa menjalani puasa hampir dua minggu ini,” ungkapnya dengan nada bercanda.

Setelah hampir empat bulan berada di Polandia, Tata telah sejak lama mempersiapkan diri untuk bisa menjalankan ibadah puasa di negara dengan empat musim. Walaupun puasa kali ini bukan puasa pertamanya di negara lain, namun Tata mengaku sangat kewalahan mengatur waktu istirahat dengan waktu santap sahurnya.

“Dulu sudah pernah puasa di Singapura tapi gak sesulit ini atur waktu tidur sama sahur,” tuturnya.

Ia hanya memiliki waktu enam jam untuk berbuka, saolat tarawih, istirahat, dan sahur.

“Lumayan berat atur waktu berbuka dan tarawih, soalnya singkat banget waktunya,” ucapnya.

Semakin mendekatnya musim panas menjadikan waktu siang di negara itu menjadi semakin lama, yakni sekitar 19 jam. Tata mengakui, di awal puasa ia lebih sering menghabiskan waktu siangnya di perpustakaan kampus untuk mencari udara dingin.

“Paling gak produktif itu 3–4 hari puasa. Kerjaanku cuma diam di perpustakaan,” ceritanya dengan tertawa.

Menjadi minoritas di negara renaissance tidak menyurutkan semangat beribadah. Tata, bersama teman-teman yang tergabung di Perhimpunan Pelajar Indonesia membuat acara buka bersama.

Halaman
12
Editor: Endah Imawati
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help