Berita Sidoarjo

Tim Dosen Universitas 45 Surabaya Bantu Tingkatkan Daya Saing Perajin Batik

Para perajin Batik Tulis dari Kampoeng Batik Jetis mendapat pelatihan dan bantuan dari tim dosen Fakultas Teknik Universitas 45 Surabaya.

Tim Dosen Universitas 45 Surabaya Bantu Tingkatkan Daya Saing Perajin Batik
surabaya.tribunnews.com/m taufik
Ida Kusnawati, dosen Fakultas Teknik Universitas 45 Surabaya saat menyerahkan bantuan peralatan ke Ratna Tuti Mufida, pengelola batik Namiro dalam acara Workshop Penguatan Daya Saing IKM Batik Jetis yang digelar di Warung Wardoyo, di Jl Taman Pinang Indah, Sidoarjo, Kamis (31/5/2018) petang. 

SURYA.co.id | SIDOARJO - Para perajin Batik Tulis dari Kampoeng Batik Jetis Sidoarjo mendapat materi bidang produksi dan manajemen, plus bantuan peralatan usaha dari tim dosen Fakultas Teknik Universitas 45 Surabaya.

Materi itu disampaikan dalam acara Workshop Penguatan Daya Saing IKM Batik Jetis yang digelar di Warung Wardoyo, di Jl Taman Pinang Indah, Sidoarjo, Kamis (31/5/2018) petang.

"Ini merupakan bentuk tanggung jawab kami sebagai pemenang hibah dari Ristek Dikti," kata Ida Kusnawati, dosen Fakultas Teknik Universitas 45 Surabaya di sela acara.

Selain Ida Kusnawati, tim dosen itu ada Mochammad Hatta dan Agung Wahyudi. "Dalam kegiatan ini, kami berusaha membantu beberapa hal untuk para perajin. Termasuk masalah bidang produksi dan management," sambung Ida.

Dalam kesempatan ini, pihaknya juga memberi bantuan berupa alat produksi yang sudah dimodifikasi sedemikian rupa untuk meningkatkan produksi. Seperti meja pengeblat pola, kursi pembatik, kompor modifikasi, wajan dan saringannya.

Dijelaskan bahwa dalam kegiatan PKM ini, tim dosen telah berhasil melakukan identifikasi berbagai masalah yang saat ini sering dihadapi oleh para perajin dengan fokus pada dua bidang.

Yakni Bidang Produksi, terkait penggunaan beberapa peralatan membatik yang telah menempatkan pembatik pada posisi tidak alamiah, cepat lelah dan cenderung menyebabkan penyakit akibat kerja Musculoskeletal Disoders (MSDs) yang pada akhirnya mempengaruhi produksi dan produktivitas.

"Kedua adalah Bidang Manajemen terkait dengan manajemen produksi harian, katalog produk, penjualan konvensional dan optimalisasi pengawasan hasil produksi," imbuhnya.

Solusi yang ditawarkan pada para perajin, di bidang produksi, dengan menerapkan prinsip Ergonomi pada inovasi beberapa peralatan membatik yang meliputi meja pengeblat pola, kursi pembatik serta kompor LPG modifikasi dan saringan lilin, sedangkan.

Sedangkan bidang anajemen, dengan mengadakan pelatihan dan pendampingan, pembuatan katalog dan pemasaran e-commerce.

Para perajin mengaku senang bisa ikut program ini. Mereka bisa mendapat suntikan masukan untuk lebih meningkatkan produksi dan menguatkan manajemen dalam menjalankan usahanya.

"Batik di Kampoeng Jetis itu unik. Batik asli Sidoarjo tapi pelanggannya mayoritas dari Madura," kata Ratna Tuti Mufida, pengelola batik Namiro yang ikut dalam kegiatan ini.

Tentang usaha yang digelutinya, sejauh ini disebut biasa-biasa saja. "Mungkin karena kurang promosi atau bagaimana, sehingga kurang dikenal secara luas. Padahal, Batik Khas Jetis sebenarnya tidak kalah dengan batik tulis lain," urai dia.

Sementara Hamim Tohari, juga pengelola Batik Namiro yang hadir di acara ini sempat mengeluhkan sulitnya mendapatkan izin produksi dari pemerintah. "Yang bisa didapat hanya izin perdagangan. Kalau izin produksi sulit sekali, kami pernah mengurus ke dinas juga tak kunjung bisa," sebutnya.

Penulis: M Taufik
Editor: Eben Haezer Panca
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help