Ekonomi

Ingin Turunkan Angka Kemiskinan ke Satu Digit, Bappenas Gelar Forum Keperantaraan

Bappenas dan KOMPAK-DFAT menginisiasi Forum Keperantaraan untuk melibatkan pelaku bisnis menjajaki potensi beberapa daerah.

Ingin Turunkan Angka Kemiskinan ke Satu Digit, Bappenas Gelar Forum Keperantaraan
ist
Forum Keperantaraan yang digelar Kementerian PPN/Bappenas bekerjasama dengan KOMPAK-DFAT di Jakarta, Rabu (30/5/2018) 

SURYA.co.id | JAKARTA - Dalam beberapa tahun terakhir, tingkat kemiskinan di Indonesia berada pada fase yang cukup sulit untuk diturunkan menjadi satu digit.

Berbagai upaya telah dilakukan, di antaranya mewujudkan sinergi antara program-program kemiskinan, memberikan jaminan sosial secara merata kepada seluruh masyarakat, menyalurkan bantuan sosial dengan selektif kepada yang membutuhkan, memberikan kewenangan dan dukungan pembiayaan yang besar ke tingkat desa, dan langkah-langkah strategis lain yang bertujuan untuk menekan tingkat kemiskinan hingga serendah mungkin.

Salah satu tantangan dalam pelaksanaan upaya-upaya tersebut adalah belum bertemunya potensi menarik di daerah yang relatif miskin di Indonesia dengan para pelaku usaha yang memiliki kemampuan dan pengetahuan untuk mengembangkan dan memasarkan potensi tersebut.

Untuk menjembatani gap tersebut, Kementerian PPN/Bappenas dengan dukungan KOMPAK-DFAT menginisiasi Forum Keperantaraan yang agenda utamanya mengajak pelaku bisnis untuk menjajaki beberapa daerah yang berkomitmen tinggi agar bersama-sama mengangkat potensi wilayah sekaligus mendorong keterlibatan masyarakat.

Menghadirkan sekitar 36 pelaku usaha dari berbagai bidang dan 9 perwakilan daerah, Forum Keperantaraan berperan sebagai awal dari penjajakan potensi komitmen yang dapat dibangun para pihak terkait.

“Forum ini menjadi wadah untuk menganalisis secara bersama, tantangan yang masih menghambat, dan tindak lanjut yang diperlukan," kata Direktur penanggulangan Kemiskinan dan Kesejahteraan Sosial Kementerian PPN/Bappenas, Vivi Yulaswati di Forum Keperantaraan Rabu (30/5/2018). Ajang ini akan digelar hingga esok (31/5/2018) di hotel JS Luwansa, Jakarta. 

"Inilah salah satu wujud pemberdayaan melalui kolaborasi seluruh pihak sebagai langkah maju dari upaya yang telah dilakukan pemerintah dengan memberikan berbagai bantuan kepada masyarakat sehingga diharapkan kemandirian masyarakat benar-benar dapat diwujudkan dan kemiskinan secara signifikan dapat diturunkan,” sambungnya.

Peluang sekaligus tantangan besar yang agaknya relevan dengan langkah berikutnya adalah optimalisasi besarnya potensi melimpahnya sumber daya pertanian dan perkebunan di Indonesia yang dapat menimbulkan manfaat ekonomi lebih besar bagi masyarakat miskin.

Pasalnya, selain dikenal sebagai produsen terbesar minyak kelapa sawit, coklat, kelapa, dan buah-buahan di seluruh dunia, Indonesia juga berperan sebagai produsen beras terbesar ketiga, produsen singkong terbesar ketiga, produsen kopi terbesar ketiga, produsen kacang terbesar kedelapan, dan produsen daging sapi terbesar se-Asia Pasifik.

Dengan sebatas komoditas itu saja, masyarakat Indonesia, khususnya yang hidup di perdesaan, dapat lebih menikmati manfaat ekonomi dari besarnya ekspor Indonesia.

“Namun, mengapa hal itu nampaknya belum terjadi? Bagaimana pula dengan melimpahnya sumber daya sektor kelautan dan perikanan? Harapannya, Forum Keperantaraan akan memetakan hal tersebut dan memberikan rekomendasi solusi sehingga ekonomi masyarakat miskin dapat lebih maju dan kemiskinan satu digit dapat tercapai,” ungkap Direktur Vivi.

Seiring dengan tren ekonomi global, yaitu menjamurnya bisnis rintisan (start-up) sebagai pemangku kepentingan ekonomi yang patut diperhitungkan, pemerintah Indonesia juga melibatkan para pelaku bisnis start-up tersebut dengan turun langsung ke wilayah-wilayah potensial di daerah yang relatif miskin dan bersama-sama mengangkat potensi tersebut sehingga bisa menembus pasar yang lebih luas, dengan mengedepankan prinsip sharing economy.

Selain peluang on-farm dari ekstraksi komoditas pertanian dan perkebunan, masih terbuka pula peluang industri off- farm, seperti pengolahan produk, pengemasan, dan berbagai industri pendukung lainnya, serta industri non farm yang tidak kalah menariknya, seperti pariwisata, kerajinan tangan, tenun/kain, dan lainnya.

Editor: Eben Haezer Panca
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help