Geliat Ludruk di Surabaya

Usung Gaya Kontemporer, Luntas Ajak Anak Muda Menghidupi Ludruk

Tak mudah untuk mengajak anak muda ikut menghidupi ludruk. Untuk memulai itu, Luntas memilih jalan kontemporer meski keluar dari pakem.

Usung Gaya Kontemporer, Luntas Ajak Anak Muda Menghidupi Ludruk
ist/dok.luntas
Pertunjukan kelompok ludruk Luntas. Kelompok ini mengangkat konsep kontemporer. Mereka lebih suka disebut ngeludruk ketimbang kelompok ludruk. 

Robetz Bayoned (42) tak menyangka tiket pertunjukan kelompoknya malam itu ludes. Beberapa orang bahkan rela membeli tiket meski sudah pasti tak kebagian tempat duduk. Mereka ingin menyaksikan lakon “Bangkit dalam Kubur” yang akan dibawakan kelompok ludruk kontemporer, Luntas.

SURYA.co.id | SURABAYA – Setidaknya sekitar 350 orang berbaur dalam pertunjukan yang berlangsung sekitar tahun lalu itu. Robetz, pentolan Luntas, merasa bergairah. Sambutan penonton yang melebihi ekspektasi itu membuat semangat Luntas semakin meledak.

“Bukan hanya saat itu saja. Tiap kita tampil, pengunjung selalu penuh. Contoh lain saat kita melakonkan ‘Suster Gepeng’,” kata Robetz.

Usia kelompok ludruk itu masih muda. Luntas resmi terbentuk 21 Januari 2016. Orang-orang yang bergabung di dalamnya juga tergolong muda. Usia mereka rata-rata di bawah 40 tahun.

Robetz dan kawan-kawan sebenarnya enggan menyebut kelompok mereka sebagai kelompok ludruk. Mereka mahfum pertunjukan yang ditampilkan bukan seperti pertunjukan ludruk yang dikenal selama ini. Mereka tampil dengan gaya kekinian. Mereka lebih nyaman menyebut diri ngeludruk.

Bagi kalangan seniman, ludruk dan ngeludruk adalah dua hal yang berbeda. Ludruk identik dengan berbagai pakemnya yang melekat. Sementara ludrukan sekadar pertunjukan yang menganut beberapa prinsip ludruk. Tapi tak semuanya diterapkan.

Akan tetapi, Luntas pun sebenarnya tak lepas dari pakem-pakem yang ada dalam ludruk.

“Dasarnya kami enggak berbeda dengan ludruk. Ada remo, ada lawakan, dan sebagainya. Hanya saja, kami berinovasi di sisi tampilan, musik, cerita, dan konsep,” tamnbah Robetz.

Baca: Menjaga Nyala Api Ludruk Agar Bertahan dari Gerusan Zaman

Baca: Sabil Lukito, Puluhan Tahun Setia Ngeludruk Tobong

Ludrukan ala Luntas juga mencoba mengurangi porsi segmen yang tak terlalu disukai oleh anak muda. Misalnya, jula juli yang biasanya berlangsung hingga 1 jam dalam pertunjukan ludruk normal, mereka ringkas menjadi sekitar 15 menit.

“Orang-orang sekarang sukanya yang simpel tapi mengena,” tambah dia.

Halaman
123
Penulis: Wiwit Purwanto
Editor: Eben Haezer Panca
Ikuti kami di
KOMENTAR

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help