Geliat Ludruk di Surabaya

Sabil Lukito, Puluhan Tahun Setia Ngeludruk Tobong

Tidak mudah untuk memelihara ludruk tetap lestari. Tetapi meski harus menempuh 'jalan sunyi' para senimannya masih terus berjalan

Sabil Lukito, Puluhan Tahun Setia Ngeludruk Tobong
surabaya.tribunnews.com/aflahul abidin
Para seniman yang tergabung dalam kelompok ludruk Irama Budaya Sinar Nusantara berlatih di tobong di Taman Hiburan Rakyat (THR) Surabaya, dua pekan lalu. Kelompok ini merupakan satu dari sedikit kelompok ludruk di Surabaya yang masih rutin pentas. 

Sabil Lukito sudah 'berkenalan' dengan ludruk sejak era 80-an. Pria 51 tahun ini sekarang masih aktif menjadi pemain ludruk di Surabaya. Satu harapannya untuk kesenian asli Jawa Timur ini:  ludruk masih menjadi media penyalur rasa nasionalisme dan patriotisme.

SURYA.co.id | SURABAYA - Sabil dan ludruk sudah mendarah daging. Ia mengenal kesenian ini sejak sekolah dasar (SD) di Blitar. Saat itu, ia sering mengamati pertunjukan ludruk di kampungnya.

“Kalau teman seusia sudah pada tidak tertarik, saya pengecualian ketika itu,” kata pria yang kini bergabung dengan Irama Budaya Sinar Nusantara ini.

Ketika belajar tingkat SMP di Lumajang bersama sang pakde, Sabil sempat kesulitan untuk terus belajar ludruk. Minatnya baru tersalurkan tiga tahun kemudian. Saat SMA, ia ganti tinggal bersama sang paman yang tak terlalu ketat dalam pendidikan formal.

Kiprahnya menjadi pemain ludruk baru dimulai saat datang ke Surabaya. Sambil berkuliah di Universitas PGRI Adi Buana Surabaya, Sabil mengaku turut menggerakkan ludruk kampung ketika itu. Bersama dengan teman-teman mahasiswa di kampus lain.

“Saya angkatan yang menggerakkan ludruk kampus dengan Cak Lontong. Ludruk remaja, (isinya) teman-teman mahasiswa,” katanya.

Baca: Menjaga Nyala Api Ludruk Agar Bertahan dari Gerusan Zaman

Sayangya, menurut Sabil, membina mahasiswa untuk berkesenian ludruk ketika itu cukup susah. Mereka yang sudah lulus banyak yang tak melanjutkan kesenian itu.

Setelah lulus kuliah sektiar 1990, sabil memilih bekerja. Pendapatan dari tampil di tobong ludruk tak cukup untuk menghidupi dirinya. Tapi, ia tetap menyediakan waktu untuk bermain ludruk di sela-sela waktu kerja itu.

“Sangat tidak (mencukupi). Tahun 90-an, ludruk sudah mengalami keterpurukan. Ibaratnya hidup segan, mati tak mau. Yang bergerak hanya tinggal kawan-kawan ini,” ungkapnya. Kawan-kawan yang dimaksud untuk momen itu yakni yang bergabung dengan Irama Budaya Sinar Nusantara.

Bagi para seniman ludruk, menurut Sabil, uang penting, tapi bukan yang utama. Cita-cita untuk membangkitkan kembali ludruk seperti zaman kemerdekaan dan prakemerdekaan menjadi tujuan besar yang kini sedang sama-sama digagas.

Ia melihat, ludruk kini dan dulu sudah berbeda. Ludruk yang tampil nobong dan dikarciskan setiap pekan di Surabaya barangkali sudah tinggal satu atau dua kelompok. Sementara dari sisi penggemar, sebagaimana pengamatan Sabil selama ini, masih menjadi magnet di daerah-daerah, seperti di Kabupaten Malang, Mojokerto, dan Jombang.

“Ludruk harus tetap hidup karena ruhnya ludruk adalah nasionalisme dan patriotisme. Itu yang benar-benar membuat saya dulu terinspirasi. Sehingga ludruk harus masih menjadi media penghidup nasionalisme dan patriotisme seperti sekarang ini,” ujarnya.

Hengki Kusuma, yang juga pemain Ludruk Irama Budaya Sinar Nusantara mengatakan, banyak momen luar biasa yang tak bisa dilupakan selama kariernya di dunia ludruk. Terutama selama bergabung dengan kelompok tersebut dan menempati tobong dari daerah Wonokromo hingga pindah ke Taman Hiburan Rakyat (THR).

“Ketika masih banyak yang menonton pertunjukan kami, artinya masyarakat sampai detik ini masih senang dengan ludruk,” ungkap pria 56 tahun itu, yang juga aktif di dunia kesenian teropan. (fla/iit)

Penulis: Wiwit Purwanto
Editor: Eben Haezer Panca
Ikuti kami di
KOMENTAR

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help