Geliat Ludruk di Surabaya

Menjaga Nyala Api Ludruk Agar Bertahan dari Gerusan Zaman

Kesenian Ludruk di Surabaya berkali-kali dihantam perubahan zaman. Namun sampai kini eksistensinya masih ada meski para senimannya 'berdarah-darah'

Menjaga Nyala Api Ludruk Agar Bertahan dari Gerusan Zaman
surabaya.tribunnews.com/aflahul abidin
Sekretaris Kelompok Ludruk Irama Budaya Sinar Nusantara Meimura (dalam siluet) tengah mencontohkan gerakan tari dalam latihan di tobong di Taman Hiburan Rakyat (THR) Surabaya. Kelompok ini merupakan satu dari sedikit kelompok ludruk di Surabaya yang masih rutin pentas. 

Meimura mondar-mandir dari tempat duduknya menuju arah tobong tempat para pemain ludruk menggelar gladi bersih, Jumat (11/5) malam. Di sudut kecil kompleks Taman Hiburan Rakyat (THR) itu, Sekretaris Kelompok Ludruk Irama Budaya Sinar Nusantara tersebut perlu memastikan tak ada kesalahan dalam penampilan yang digelar dua hari kemudian di Balai Pemuda.

SURYA.co.id | SURABAYA - Tampil dalam pertunjukan, bagi para pemain ludruk itu, bukan hal mengagetkan. Sebab, mereka rutin tampil saban pekan. Tetapi, latihan tetap penting untuk memastikan pertunjukan berjalan sesuai skenario.

“Ini cuma sebentar, karena kemarin-kemarin juga sudah latihan rutin,” kata Mei, sapaan akrabnya saat berlatih untuk tampil dalam peringatan Hari Jadi ke-725 Kota Surabaya.

Tanggapan masyarakat soal kesenian ludruk saat ini sudah jauh berbeda dibandingkan tahun 70- 80-an. Mei memahami betul kondisi itu. Maka pada akhir 2015, ia dan pelaku seni kelompok Irama Budaya mengupayakan terwujudnya tiga hal yang dianggap penting. Yakni eksistensi, inovasi, dan regenerasi kesenian ludruk.

“Untuk menjaga, kita harus berusaha main terus. Ada atau tidak ada penonton, tetap kita main,” tuturnya.

Irama Budaya dikenal sebagai kelompok ludruk yang masih erat memegang pakem dalam sebuah pertunjukan. Lambat laun, para pelakunya menyadari perlunya inovasi untuk menarik minat generasi muda. Caranya dengan menampilkan lakon-lakon yang berdekatan dengan generasi masa kini.

Mei mencontohkan, Irama Budaya pernah menampilkan lakon “Mentang-mentang dari New York” karya Marcelino Agana Jr pertengahan 2017. Sebuah naskah drama yang diadopsi menjadi pertunjukan ludruk. Menurut Mei, pertunjukan lakon tersebut merupakan salah satu cara Irama Budaya menampilkan sesuatu yang aktual.

Selain itu, ada deretan lakon lain yang dipentaskan dengan semangat yang sama. Dua di antaranya, yakni “Malam Jahanam” dan Ayahku Pulang”. Sementara untuk regenerasi, Irama Budaya juga menampung anak-anak hingga remaja untuk belajar ludruk.

Tetap bertahan

Sudah puluhan tahun kesenian ludruk hidup dalam sunyi. Aktivitas para senimannya masih tetap ada, meski dalam lingkup kecil. Di sisi lain, eksistensinya di luar tobong nyaris tak terdengar. Warga di Kota Surabaya beruntung karena kesenian ini masih dapat ditemui meski tidak setiap hari.

Halaman
123
Penulis: Aflahul Abidin
Editor: Eben Haezer Panca
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved