Geliat Ludruk di Surabaya

Lewat Mural, Lukman Kenalkan Ludruk ke Anak Muda Surabaya

Mengenalkan kesenian ludruk bisa dengan berbagai cara. Lukman Hidayat misalnya, mengenalkan ludruk lewat seni mural di tembok-tembok kampung

Lewat Mural, Lukman Kenalkan Ludruk ke Anak Muda Surabaya
surya/danendra kusumawardana
Mural parikan dan tokoh ludruk menghiasi kampung Gadukan Bozem, Moro Krembangan, Kecamatan Krembangan, Surabaya. 

SURYA.co.id | SURABAYA - Lukman Hidayat (34) mencoba mengenalkan seniman ludruk lewat gambar-gambar mural yang terpampang di Kampung Parikan di Kelurahan Moro Krembangan, Kecamatan Krembangan, Surabaya. Kampung ini baru saja selesai digarap sekitar awal Maret lalu.

“Ada Cak Momon, Cak Markeso, Cak Prio,” kata Lukman. Nama-nama yang ia sebut adalah sebagian dari seniman ludruk yang ia gambar di Kampung Parikan. Secara umum, tokoh-tokoh tersebut sudah jarang dikenal orang, bahkan warga Surabaya.

Seperti namanya, kampung tersebut juga memiliki mural-mural bertema parikan. Menuliskan parikan di sana tak bisa dilepaskan dari bagian ludruk. Lukman dan kawan-kawan seniman mural dibantu dengan tim untuk mengonsep tema yang harus digambar dan ditulis di dinding.

“Saat ini menurut saya, anak muda sekarang banyak yang tidak tahu ludruk sebagai kesenian khas Jawa Timur. Maka, kalau tidak dibantu dikenalkan dengan cara yang berbeda-beda, semakin sulit bagi mereka untuk mengenal,” ungkapnya.

Baca: Menjaga Nyala Api Ludruk Agar Bertahan dari Gerusan Zaman

Baca: Sabil Lukito, Puluhan Tahun Setia Ngeludruk Tobong

Target utama Lukman dari kreasinya itu adalah anak-anak muda. Menurut dia, seni mural sebenarnya tak terbatas usia. Semua golongan bisa menikmati. Dengan mengangkat ludruk, Lukman berharap bisa mengajak anak-anak sekarang untuk mulai menyukai kesenian itu.

Sebagai orang yang masih tergolong muda, Lukman juga berharap akan ada gebrakan dari para pelaku ludruk. Menurut dia, ludruk masih sangat mungkin mendapat tempat di hati anak-anak muda bila mampu menyesuaikan dengan selera pasar yang dituju.

“Harus kreatif, memang. Sebagai pelaku, (mereka) harus kreatif baik dari segi cerita, maupun kemasan pementasan,” ungkapnya.

Lukman sebenarnya menyayangkan minimnya informasi soal pementasan ludruk di Surabaya. Informasi soal itu, kata dia, masih terbatas. Tempat pementasan pun jauh dari tempat yang sering didatangi anak muda. Misalnya, Taman Hiburan Rakyat (THR).

“Soal sarana prasaranan memang harus didorong banyak pihak. Andai bisa juga ditampilkan di televisi-televisi nasional, mungkin anak muda akan semakin tahu soal ludruk,” tutur dia. (fla/iit)

Baca: Kartolo : Ludruk Itu Ngidung dan Melucu

Baca: Usung Gaya Kontemporer, Luntas Ajak Anak Muda Menghidupi Ludruk

Penulis: Aflahul Abidin
Editor: Eben Haezer Panca
Ikuti kami di
KOMENTAR

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help