Geliat Ludruk di Surabaya

Kartolo : Ludruk Itu Ngidung dan Melucu

Dari sekian seniman ludruk di Surabaya, ada nama Cak Kartolo yang sudah cukup familiar. Inilah catatannya tentang geliat ludruk di Surabaya

Kartolo : Ludruk Itu Ngidung dan Melucu
surabaya.tribunnews.com/aflahul abidin
Cak Kartolo, seniman ludruk di Surabaya 

Bicara tentang kesenian ludruk Surabaya tak bisa dilepaskan dari sejumlah sosok seniman ludruk. Salah satunya adalah Cak Kartolo. Sosok Kartolo dikenal sebagai seniman ludruk sekaligus pelawak pengocok perut, melalui parikan dan banyolan dalam jula juli. Inilah pendapat Cak Kartolo yang Surya tulis ulang untuk pembaca.

SURYA.co.id | SURABAYA - Ludruk itu intinya ada kidungan dan lucu. Di Surabaya sendiri yang diklaim sebagai tempat kelahiran Ludruk, eksistensinya juga semakin tersudut.  Semakin hari makin jarang terdengar keberadaannya.

Bila dulu kesenian ludruk main, maka berduyun-duyun penonton akan mendatangi. Beda dengan sekarang. Pertunjukan ludruk akan dimulai bila penonton sudah mencukupi jumlahnya.

Pakem ludruk adalah ada kidungan dan lucu, namun ludruk juga tak bisa dilepaskan dengan tari remo, gambyong, ngidung berupa lawak dan materi atau cerita dari ludruk itu sendiri.

Cerita Ludruk ini bebas, bisa tentang kehidupan sehari hari, sejarah, tentang lingkungan dan sebagainya. Seyogyanya seni rakyat ludruk ini berjalan sesuai pakem, dan harus dipertahankan. Namun apakah pakem ludruk ini bisa bertahan? Karena saat ini ludruk ini juga mulai tumbuh dari kalangan anak anak muda.

Minimal pakem dari ludruk ini tetap ada, dengan muatan cerita terserah apa saja. Kalau saja pakem ludruk ini menjadi perdebatan antara seniman muda dan seniornya maka ludruk tidak akan bisa berkembang.

Jika memang harus terjadi, seniman yang sudah mendahului bermain ludruk ini terus saja berjalan, sementara seniman muda tetap bisa berkesenian ludruk, asal pakem dari ludruk tetap diperhatikan. Sing penting patokan ludruk iku ngremo, ngidung terus yo lucu.

Baca: Menjaga Nyala Api Ludruk Agar Bertahan dari Gerusan Zaman

Kekhasan dari seni ludruk lainnya adalah penampilan dari pemainnya yang sederhana, apa adanya dan ada sentilan sentilan lucu yang spontan.

Dulu di Surabaya seni Ludruk dikembangkan melalui pertunjukan di tempat lapangan atau di tempat tertentu dengan berpindah-pindah tempat, atau lebih dikenal dengan nama Ludruk Tobong.

Selain itu ludruk juga banyak disiarkan oleh sebuah stasiun radio yakni RRI. Hingga saat itu ada Ludruk RRI yang banyak memiliki penggemar dan dinanti-nantikan pemirsanya.

Ludruk juga tak bisa dilepaskan dengan seniman banci atau bencong. Kenapa seniman banci atau laki-laki yang memerankan wanita ini begitu kental dengan seni ludruk. Karena saat itu tidak banyak wanita yang mau berkesenian main ludruk. Bisa juga para perempuan saat itu malu untuk main Ludruk. Karena harus tetap main maka pemain pria ini didandani sebagai seorang wanita dalam main ludruk.

Kalau dulu pemain lanang sing macak wedok iki, (pria yang berdandan perempuan) ini tinggal diberi kerudung dan selanjutnya sudah berubah perannya menjadi seorang perempuan.

Satu hal lagi kekhasan Ludruk ini karena berasal dari Surabaya maka dialog yang dilakukan juga menggunakan bahasa Suroboyoan. Namun dalam perkembangan ludruk juga diselingi dengan dialog menggunakan Bahasa Indonesia. (iit/fla)

Penulis: Aflahul Abidin
Editor: Eben Haezer Panca
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help