Geliat Ludruk di Surabaya

Erwin Rajin Nonton Ludruk saat di Surabaya, Tapi Susah Ajak Sejawat Ikut

Tak banyak anak muda yang menyukai ludruk. Satu dari yang sedikit itu adalah Erwin yang selalu menyempatkan nonton ke THR saat sedang di Surabaya

Erwin Rajin Nonton Ludruk saat di Surabaya, Tapi Susah Ajak Sejawat Ikut
surabaya.tribunnews.com/aflahul abidin
Para anggota kelompok ludruk Irama Budaya Sinar Nusantara tengah berlatih di tobong di Taman Hiburan Rakyat (THR) Surabaya, dua pekan lalu. Kelompok ini merupakan satu dari sedikit kelompok ludruk di Surabaya yang masih rutin pentas. 

SURYA.co.id | SURABAYA – Erwin Poedjiono Tirto Sari selalu menyempatkan waktu untuk nonton pertunjukan ludruk ketika ada pentas di Surabaya. Terutama apabila dua kelompok ludruk idolanya, Irama Budaya Sinar Nusantara dan Luntas yang tampil.

Erwin kini berumur 33 tahun. Orang seusia Erwin rata-rata sudah cukup jarang datang intens untuk menonton sebuah pertunjukan ludruk. Kondisi ini pula yang melatarbelakangi pria tersebut untuk menjadi penonton setia.

“Kalau setiap ada pertunjukan dan saya sedang di Surabaya, saya sediakan waktu untuk hadir menonton,” kata pria yang bekerja sebagai desainer interior itu. Pekerjaan yang sering digarap hingga keluar kota memang membuat Erwin tak bisa setiap waktu berada di Kota Pahlawan.

Aktivitas rutin menonton ludruk itu pun baru berjalan sekitar hampir dua tahun. Itu setelah ia tahu bahwa Irama Budaya masih hidup. Dulu, yang ia tahu kelompok tersebut bertempat di kawasan Wonokromo. Ketika mencoba menilik ke sana, ia tak lagi mendapati sisa-sisa kesenian ludruk.

Informasi bahwa kelompok ludruk tersebut masih hidup dan bermarkas di Taman Hiburan Rakyat (THR) terlambat ia dengar.

Baca: Usung Gaya Kontemporer, Luntas Ajak Anak Muda Menghidupi Ludruk

Baca: Menjaga Nyala Api Ludruk Agar Bertahan dari Gerusan Zaman

Sebagai orang yang masih tergolong muda, Erwin lebih menyukai sajian pertunjukan ludruk kontemporer.

Ludruk seperti ini sering ditampilkan oleh Luntas. Di sini lain, ia pun menyimpan kesukaan kepada ludruk konvensional, yakni yang sering dibawakan Irama Budaya. “Tergantung mood,” tuturnya.

Kesukaan Erwin terhadap ludruk tak bisa dilepaskan dari pengalaman masa kecil. Saat ia masih tinggal di Lumajang, Jawa Timur. Ketika itu, kesenian ludruk masih sering dipertontonkan. Kebetulan, ia tinggal di sebuah desa lereng Gunung Semeru.

“Saya terbiasa berinteraksi dengan orang desa. Menurut saya, media hiburan paling menarik bagi masyarakat desa, dan mendidik, ya cuma ludruk, ketoprak, wayang. Coba bandingkan dengan (hiburan di) televisi,” tambah dia.

Menurut dia, lakon yang ditayangkan pada ludruk syarat nilai kehidupan. Cerita-cerita tak jauh dari kehidupan realitas. “Bukan cerita-cerita fantasi kehidupan orang kaya dan sebagainya,” tutur Erwin.

Halaman
12
Tags
Ludruk
Penulis: Wiwit Purwanto
Editor: Eben Haezer Panca
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help