Sambang Kampung Sawunggaling

Batasi Penggunaan Gadget pada Anak, Karang Taruna Buat Kampung Dolanan Tiap Sabtu Malam

Selepas belajr anak-anak kadang lebih memilih melepas lelah dengan bermain gadget atau menonton televisi.

Batasi Penggunaan Gadget pada Anak, Karang Taruna Buat Kampung Dolanan Tiap Sabtu Malam
surya/sulvi sofiana
KAMPUNG DOLANAN - Anak-anak di RT 8, RW 6 Waringin Kelurahan Sawunggaling Kecamatan Wonokromo bermain permainan tradisional di gang kampung, Senin (21/5/2018). 

SURYA.co.id | SURABAYA - Gadget saat ini sudah merambah berbagai usia, termasuk anak-anak. Selepas belajr anak-anak kadang lebih memilih melepas lelah dengan bermain gadget atau menonton televisi.

Demikian juga anak –anak di RT 8, RW 6 Waringin Kelurahan Sawunggaling Kecamatan Wonokromo. Mereka cenderung bermain handphone saat luang, termasuk saat Sabtu malam. Sehingga interaksi antar anak di kampung semakin minim.

Melihat kondisi ini, karang taruna bersama ketua RT wilayah tersebut menggagas kegiatan bermain dolanan lawas. Merekapun mengadakan kampung dolanan setiap Sabtu malam mulai pukul 19.00 hingga 20.00.

Anak-anak yang awalnya bermain gadget mulai diajarkan berbagai permainan tradisional yng minim alat tetapi banyak interaksi.

Nila Ruciwi (43) merasakan dampak kampung dolanan ini pada anaknya yang berusia lima tahun. Biasanya anaknya akan marah saat dibatasi penggunaan handphonenya. Tetapi kini anaknya lebih memilih bermain dengan teman-teman di kampungnya saat minggu malam.

“Biasanya youtuban saja, diatasi waktunya juga marah. Makanya biasanya dibiarin. Tetapi sekarang bisa diajak main lainnya,” ungkapnya menceritakan anaknya yang pandai bermain hulahop ini.

Untuk menjaga keamanan anak-anak setiap sabtu malam jalan kampung ditutp, sehingga anak-anak bisa bebas bermain. Mulai dari enggrang, bakiak, lompat tali, dakon dan beragam permainan lainnya.

“Ibu bapaknya smbil jagain ya senang kayak mengenang masa lalu,” lanjutnya.

Ketua RT 8, David Nisan Agung (45) mengungkapkan anak-anak d kampungnya cukup banyak. Upaya membuat kampung dolanan ini diharapkan bisa mnegurangi aktivitas anak selama beberapa jam dari pemakaian handphone.

“Awalnya ngumpulkan anak-anak untuk fokus bermain ya susah. Ada yang orang tuanya ngomel anaknya kok diajak main terus,” lanjutnya.

Tetapi karena manfaatnya kemudian bisa dirasakan oleh orang tua, akhirnya warga semakin mendukung program ini. Dengan kegiatan ini, warga juga memiliki wadah untuk bertemu dan saling mengenal satu sama lain.

“Di kampung ini harus ada kegiatn karena 50 persennya juga pendatang, bukan warga asli semua. Kalau warga asli saja 166 KK,” lanjutnya.

Berbagai perlengkapan dolanan ini juga memanfaatkan kemampuan warga yang mampu membuat.

Penulis: Sulvi Sofiana
Editor: Parmin
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved