Berita Surabaya

Teman Ngaji Dita, Pelaku Teror Bom Surabaya sebut Pendidikan Teroris sejak di Sekolah, Kok Bisa?

Pelaku teror bom di Surabaya, Dita Oepriarto diketahui bukan sosok biasa. Dia adalah lulusan SMA bergengsi di Surabaya.

Teman Ngaji Dita, Pelaku Teror Bom Surabaya sebut Pendidikan Teroris sejak di Sekolah, Kok Bisa?
surya/sugiharto
Polisi melakukan olah TKP di depan Gereja Kristen Indonesia (GKI) Diponegoro pasca meledak, Minggu (13/5/2018) pagi. 

SURYA.co.id | SURABAYA - Pelaku teror bom di Surabaya, Dita Oepriarto diketahui bukan sosok biasa. Dia adalah lulusan SMA bergengsi di Surabaya, sekaligus lulusan jurusan kimia universitas ternama.

Ahmad Faiz Zainuddin teman ngaji Dita, yang statusnya sempat viral di Facebook, mengatakan sejak dahulu para kelompok jalur keras selalu mencari bibit-bibit unggulan. Mereka memang butuh anak-anak pintar.

"Kenapa? Karena proses brain washing kan harus diajak diskusi, nah yang suka diskusi ini biasanya adalah anak-anak unggulan. Tapi brain washing saat SMA dulu nggak ngajak perang, cuma menyalahkan sistem negara saja nggak sesuai Islam, stadium dualah," tuturnya kepada Surya.co.id, Selasa (22/5/2018).

Faiz mengaku generasi muda saat ini cenderung lebih banyak mengikuti Islam jalur keras.

Dia menceritakan beberapa orangtua datang kepadanya mengeluhkan sang anak mendapatkan pengajaran dari guru, untuk tidak hormat saat upacara bendera.

"Jangan salah, pendidikan terorisme itu bahkan diberikan di sekolah-sekolah, bahkan di SD. Saya tahu juga karena orangtua ada yang mengeluh, anaknya mendapat pelajaran begitu dari guru di kelas," jelas Faiz, yang berprofesi sebagai trainer ini.

Untuk itu Faiz mengaku agar pemerintah dan seluruh masyarakat Indonesia peka dan mencegah munculnya bibit-bibit terorisme sejak dini.

Faiz menjelaskan jika cara memberantas bibit terorisme ini bukan dengan kekerasan.

"Mereka ini sebenarnya orang-orang baik, hanya saja ideologinya yang salah. Jangan dimusuhi karena mereka akan semakin keras," katanya.

Sebagai saran, Faiz mengatakan bahwa pemerintah seharusnya melawan mereka dengan cara yang sama, yaitu membuat kelompok ideologi tandingan.

Halaman
12
Penulis: Pipit Maulidiya
Editor: Parmin
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help