Bom Surabaya

Ada 4 Stadium Seseorang Jadi Teroris dan Mau Lakukan Bom Bunuh Diri, Begini Kata Alumnus Unair

Pada proses evolusi tersebut, Faiz melanjutkan ada empat tahap stadium seseorang bisa berubah menjadi teroris.

Ada 4 Stadium Seseorang Jadi Teroris dan Mau Lakukan Bom Bunuh Diri, Begini Kata Alumnus Unair
Dok Polri
Proses penyerahan diri para tahanan terorisme Rumah Tahanan Cabang Salemba di Mako Brimob Kelapa Dua, Jakarta, Kamis (10/5/2018). Semua tahanan terorisme sebanyak 155 orang menyatakan menyerah tanpa syarat kepada pihak aparat kepolisian RI. 

SURYA.co.id | SURABAYA - Ahmad Faiz Zainuddin teman Dita Oepriyanto, pelaku teror bom di gereja Surabaya, banyak bercerita soal bagaimana seseorang bisa bersedia jadi pengantin bom bunuh diri.

Lulusan psikologi Universitas Airlangga (Unair) ini mengaku mengetahuinya, karena sudah mengikuti beberapa kelompok pengajian, dengan berbagai ideologi ajaran agama Islam.

Salah satunya pengajian yang diikuti oleh Dita Oepriyanto.

"Mana ada sekarang orang yang mau dipakai alat untuk negara tertentu, Israel misalnya, disuruh bunuh diri dengan bom? Kalau dirinya sendiri tidak meyakini itu benar?!" kata Faiz, saat ditemui Surya.co.id di rumah sang teman kawasan Jalan Manyar Sabrangan, Surabaya, Selasa (22/5/2018).

Faiz melanjutkan bahwa orang tak ujug-ujug (tiba-tiba) menjadi seorang teroris. Ada proses evolusi, meski ada beberapa kasus seseorang bisa berubah menjadi teroris dalam waktu satu hari saja.

Pada proses evolusi tersebut, Faiz melanjutkan ada empat tahap stadium seseorang bisa berubah menjadi teroris.

"Stadium empat sekarang jumlahnya masih kecil, tapi kalau stadium satu sudah banyak. Terorisme itu tidak serta-merta langsung membuat seseorang jadi teroris. Mereka berevolusi," tegasnya.

Stadium satu terang Faiz dimulai dari seseorang mempercayai bahwa kepercayaan yang benar adalah 'golongan saya', selain itu salah. Di sana mulai ada dikotomi antara golongan kami dengan mereka.

Stadium dua, mereka mulai menganggap bahwa sistem negara tidak benar. Saat itu keyakinan ini hanya ada di dalam hati saja, tidak pakai kekerasan. Faiz mencontohkan organisasi yang ingin mengganti dasar negara dengan konsep keagamaan versi sendiri dan teman-temannya, semua mulai dari gerakan di bawah tanah.

Stadium tiga, mulai mengumpat atau menggunakan kekerasan verbal untuk mengungkapkan ketidaksukaanya. Terkahir stadium empat, mereka mulai kekerasan fisik.

Proses evolusi itu lanjut Faiz terjadi tanpa mereka sadari.

"Tapi ada juga yang jangankan 1 tahun 2 tahun, sehari juga ada. Ali Imron pernah diwawancara oleh Wahid Fondation dia mengatakan bahwa 'beri saya anak yang ghiroh Islamnya sedang tinggi-tingginya, dalam waktu 24 jam dia bisa jadi pengantin'. Syaratnya satu itu, ghiroh islam yang sangat tinggi, misalnya mantan preman baru sadar, punya dendam banyak lainnya," terang Faiz.

Penulis: Pipit Maulidiya
Editor: irwan sy
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved