Bom Surabaya

Rentetan Aksi Terorisme di Jawa Timur Diduga Direncanakan Kelompok Radikalisme Ini

Rangkaian aksi terorisme yang dilakukan oleh sejumlah teroris tersebut bukan spontan tetapi memang ada semacam perencanaan

Rentetan Aksi Terorisme di Jawa Timur Diduga Direncanakan Kelompok Radikalisme Ini
surya/ahmad zaimul haq
Polisi berjaga di sekitar lokasi ledakan di Gereja Pantekosta Pusat Surabaya (GPPS) di Jl Arjuno, Surabaya, Minggu (13/5/2018). Ledakan terjadi di tiga lokasi di Surabaya, yakni di Gereja Kristen Indonesia (GKI), Gereja Pantekosta Pusat Surabaya (GPPS), dan Gereja Katolik Santa Maria Tak Bercela pada waktu yang hampir bersamaan. 

SURYA.co.id | MOJOKERTO - Rentetan aksi terorisme Surabaya dan Sidoarjo memicu Detasemen Khusus (Densus) 88 Polri bertindak tegas melakukan penindakan terhadap seluruh terduga teroris di Jawa Timur.

Teranyar, anggota Densus 88 menangkap dua orang terduga teroris berinisial S (50) berserta anak kandungnya L (26) di kediamannya Dusun Betro Barat, Desa Betro, Kecamatan Kemlagi, Kabupaten Mojokerto, Kamis sore (18/5/2018).

Ketua FKPT (Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme) Provinsi Jawa Timur, Dr Soubar Isman menanggapi tentang aksi teror hingga penangkapan sejumlah terduga teroris yang dilakukan Densus 88.

Menurut Soubar, rangkaian aksi terorisme yang dilakukan oleh sejumlah teroris tersebut bukan spontan tetapi memang ada semacam perencanaan sebelumnya.

"Kalau ini spontan tidak mungkin karena ada yang mengatakan dikaitkan dengan kejadian di Lapas Mako Brimob," ujarnya.

"Ada yang menganggap kasus ini berkaitan, tetapi tidak mungkin orang bisa merakit bom selama tiga hari langsung bisa diledakkan. Jadi ini sebelumnya sudah direncanakan," imbuhnya.

Soubar memaparkan aksi terorisme ini ditengarai merupakan dendam lantaran banyak teroris dan pimpinan-pimpinan mereka yang ditangkap dan ditahan di Mako Brimob.

"Ini juga kemarahan mereka yang beranggapan kenapa pimpinannya ditangkap. Termasuk Oman Rachman alias Aman Abdurrahman yang merupakan tokoh dan oleh mereka dianggap sebagai pimpinan teratas (Jamaah Ansorud Daulah, JAD)," bebernya.

Masih kata Soubar, terkait Jamaah Ansorud Daulah (JAD) dan Jamaah Ansharut Tauhid (JAT) memiliki karakteristik kesamaan terhadap pemahaman radikalisme.

"Sebetulnya, JAD dan JAT itu pahamnya sama," jelasnya.

"Yang di Surabaya ini pelakunya adalah kelompok JAD," pungkasnya.

Penulis: Mohammad Romadoni
Editor: Titis Jati Permata
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help