Bisnis

Zurich Principle Care Bidik Keluarga Muda Agar Siap Hadapi Resiko Penyakit Kritis

Zurich Topaz Life agresif melakukan penetrasi ke pasar asuransi di Surabaya. Salah satunya lewat produk baru berupa Zurich Principle Care

Zurich Principle Care Bidik Keluarga Muda Agar Siap Hadapi Resiko Penyakit Kritis
surabaya.tribunnews.com/sri handi lestari
Sutikno Sjarif, Chief of Operating & Strategy Officer Zurich Topas Life (kiri) bersama Lula Kamal (kedua dari kanan) saat mengenalkan produk Zurich Principle Care di Surabaya. 

SURYA.co.id | SURABAYA - Zurich Topaz Life terus agresif melakukan penetrasi ke pasar asuransi di Surabaya. Salah satunya lewat produk baru berupa Zurich Principle Care yang membidik keluarga muda untuk nasabah barunya. 

Zurich Principle Care merupakan asuransi penyakit kritis dengan manfaat antara lain, mencakup semua jenis penyakit kritis, jaminan premium pengembalian premi sampai dengan 100 persen, dan harga premi yang terjangkau mulai dari Rp 11.000 per hari.

Sutikno Sjarif, Chief of Operating & Strategy Officer Zurich Topas Life mengatakan bahwa kehadiran produk ini sejalan dengan komitmen mereka dalam menghadirkan solusi perlindungan yang mudah, inovatif dan fokus memberikan nasabah solusi di setiap fase kehidupannya.

“Melalui inovasi produk ini, kami ingin membantu kaum dan keluarga muda Indonesia agar lebih siap dalam menghadapi risiko penyakit kritis. Dengan mengambil alih risiko beban finansial dari penyakit kritis sejak dini, maka kaum muda dapat fokus untuk berkarya dan mengejar passion-nya," kata Sutikno saat di Surabaya, Kamis (17/5/2018).

Hasil survei Zurich, lebih dari 50 persen generasi usia produktif mengaku telah peduli pada proteksi kesehatan. Tuntutan lingkungan dan gaya hidup yang lebih dinamis, kaum produktif Indonesia harus lebih siap hadapi risiko penyakit kritis.

Budi Darmawan, Chief of Agency & Premier Advisor Officer Zurich Topas Life menambahkan, seiring dengan perubahan tuntutan hidup di era modern, kebutuhan proteksi pun berkembang dan kesadaran kaum muda Indonesia dalam merencanakan perlindungan untuk keluarga semakin tinggi.

"Kaum usia produktif merupakan penentu masa depan Indonesia. Data Badan Pusat Statistik Indonesia menunjukkan bahwa 50 persen lebih penduduk Indonesia adalah usia produktif, dengan kelompok usia yang mendominasi adalah usia 15-39 tahun dengan jumlah sekitar 84,75 juta atau 32 persen dari total penduduk Indonesia," jelas Budi.

Namun, seiring dengan perkembangan kondisi lingkungan, gaya hidup modern dan pola makan, kaum usia produktif memiliki risiko terpapar penyakit kritis yang lebih tinggi. Menurut data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), di 2015 sedikitnya lebih dari 48 ribu orang meninggal dunia setiap harinya karena penyakit kardiovaskular. Diprediksi, pada tahun 2020 tiga perempat kematian di negara maju disebabkan oleh penyakit kritis.

Dokter berprestasi sekaligus aktris, Lula Kamal yang turut hadir dalam acara peluncuran Zurich Principle Care mengungkapkan, di Indonesia terdapat 3 penyakit kritis tertinggi yang menyebabkan kematian, yaitu penyakit kardiovaskular, kanker, dan diabetes. Saat ini penyakit kritis tidak terbatas pada mereka yang berusia tua.

"Generasi produktif di daerah urban dan sub – urban turut memiliki potensi lebih tinggi akan penyakit kritis karena stress level dan gaya hidup. Bahkan polusi di kota besar pun menjadi penyebab maraknya penyakit kritis,” kata Lula Kamal.

Selain risiko kematian yang tinggi, penyakit kritis juga dikenal memiliki biaya medis yang tinggi, sebagai contoh biaya perawatan penyakit kanker tiap bulannya bisa mencapai 100 juta.

Hasil riset JakPat yang bekerjasama dengan Zurich menunjukkan bahwa 88,18% responden yang merupakan generasi produktif menjawab bahwa manfaat biaya berobat menjadi manfaat yang paling diharapkan dari sebuah asurasi kesehatan. Lebih lanjut, menurut Tower Watson Global Medical Trend Survey Report, biaya kesehatan di Indonesia meningkat sekitar 79% selama periode 2010-2014.

Kementerian Kesehatan di tahun 2016 pun mengklaim bahwa penyakit kritis telah menyerap anggaran tinggi sekitar Rp 1,69 triliun atau 29,67% dari total anggaran nasional. Hal ini mencerminkan bagaimana beban finansial dari penyakit kritis dapat memengaruhi kesejahteraan finansial seseorang.

Surabaya telah menjadi salah satu kota dengan jumlah nasabah terbesar bagi Zurich, yaitu sebanyak 3102 nasabah, dengan presentasi kontribusi market share sebesar 20 persen dari keseluruhan market Zurich di Indonesia setiap tahunnya. Hal ini didukung oleh tingginya kepedulian masyarakat Surabaya terhadap proteksi kesehatan dan jiwa yang mampu melindungi mereka dari berbagai risiko di kemudian hari.

Sebagai bentuk komitmennya untuk memberikan kemudahan akses informasi bagi para nasabah di Surabaya, Zurich telah memiliki 4 kantor pemasaran mandiri. Selain itu, sebanyak 696 tenaga pemasar yang telah tersebar di sekitar wilayah Surabaya seperti Kediri, Malang, dan Sidoarjo untuk membantu permudah akses masyarakat akan produk asuransi sesuai dengan kemampuan dan kebutuhannya.

Penulis: Sri Handi Lestari
Editor: Eben Haezer Panca
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help