Johan Budi : Branding Politik Lewat Media Sosial Lebih Efektif

Staf Khusus Presiden Bidang Komunikasi, Johan Budi, menyebut bahwa strategi branding untuk kepentingan politik, kini paling efektif lewat medsos

Johan Budi : Branding Politik Lewat Media Sosial Lebih Efektif
surabaya.tribunnews.com/sulvi sofiana
Johan Budi saat bicara dalam forum Talkshow and Proactive Class (TPAC) bertajuk Brace The Movement, Kamis (17/5/2018). 

SURYA.co.id | SURABAYA - Dalam waktu dekat Indonesia akan menghadapi pesta demokrasi. Tak dapat dipungkiri, banyak berita di media massa menjadi kendaraan kepentingan politik, baik itu pencitraan partai atau tokoh politik.

Staf Khusus Presiden Bidang Komunikasi, Johan Budi Sapto Pribowo mengungkapkan, saat ini strategi politik yang paling mudah adalah dengan branding diri melalui sosial media.

Ini karena pemilih pemula yang notabene merupakan generasi milenial lebih menyukai media sosial daripada media konvensional.

"Mereka lebih suka melihat berita di sosmed dari pada media konvensional. Dengan talkshow ini, mahasiswa bisa tidak apatis dalam konteks politik,"jelasnya usai hadir dalam Talkshow and Proactive Class (TPAC) bertajuk Brace The Movement, Kamis (17/5/2018).

Kontribusi media sosial menurutnya sangat besar saat ini. 

"Jadi kalau terjebak haters ya apapun yang dilakukan tokoh itu selalu negatif, yang lovers ya selalu positif. Tetapi jumlah mereka ini 20 persen. Menurut saya masih lebih banyak 80 persen yang memutuskan pilihannya berdasarkan informasi yang diperoleh sendiri,"lanjutnya.

Melihat dari jumlah 80 persen ini, menurutnya para public relation tidak bisa mengambil kebijakan berdasarkan topik populer di sosial media.

"Itu (topik populer) bisa dibuat mesin, bisa dibeli, follower saja bisa dibeli,"lanjutnya.

Silih A. Wasesa, Founder of Konner Digital Advisory dan Founder of Asia PR mengungkapkan, branding personal akan terbentuk selama koneksi emosinya bagus, maka dalam kampanye tidak akan butuh uang.

"KPU bilang pilkada butuh sampai Rp 150 miliar, padahal nggak nyampai. Pencitraan yang positif akan membangun emosi seperti saat saya meminta pendapat para lurah di setiap desa untuk masukan Kartu Indonesia Sehat. Mereka pasti ada hubungan emosional merasa presiden meminta pendapat mereka,"paparnya dalam talkshow yang diadakan Himpunan Mahasiswa Ilmu Komunikasi Petra (Himakomtra) ini.

Ia mengungkapkan dalam pencitraan atau branding diri, etikanya terletak pada pendapat masyarakat. Kalau masyarakat jelek maka artinya brandingnya tidak beretika.

Tags
Johan Budi
Penulis: Sulvi Sofiana
Editor: Eben Haezer Panca
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help